KEPEMIMPINAN BKPN DALAM PERSPEKTIF MASA MENDATANG

TESIS
KEPEMIMPINAN GEREJA BKPN DEKADE 1994 -2004
DALAM PERSPEKTIF MASA MENDATANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Gereja dalam dunia adalah tubuh Kristus yang nyata. Melayani dengan satu tujuan yaitu melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus untuk menjadikan sekalian bangsa murid-Nya.
Gereja BKPN (Banua Keriso Protestan Nias) adalah salah satu gereja yang dipercayakan Tuhan berdiri di Telukdalam Kabupaten Nias Selatan sebagai satu Sinode. Gereja ini dideklarasikan oleh para hamba Tuhan dan para tokoh Gereja yang ada di Kecamatan Telukdalam pada tanggal 17 Mei 1994 di Desa Bawomataluo.
BKPN (Banua Keriso Protestan Nias) diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi “Gereja Kristen Protestan Nias“, dan dalam Bahasa Inggris “Protestant Christian Church Of Nias“. Gereja ini berdiri untuk menjawab tuntutan kebutuhan pelayanan yang lebih efektif dan efisien di Nias bagian Selatan
Warga gereja yang berdomisili di Kecamatan Telukdalam sebagai Ibukota Kabupaten Nias Selatan memiliki bahasa tersendiri yang berbeda dengan bahasa Nias pada umumnya, baik dari arti kata maupun intonasi. Warga gereja di Kecamatan Telukdalam menerima Injil dalam bahasa Nias, serta mengerti bahasa Nias secara umum dari Alkitab, namun dalam realita kehidupan sehari- hari injil tidak dapat dipahami secara jelas dan benar bahkan arti Injil yang sebenarnya menjadi kabur. Seiring dengan itu Bambowo Laia mengatakan bahwa, ”Untuk menyampaikan Injil dengan benar maka harus disampaikan dalam bahasa Ibunya, bukan justru injil menjauhkan dirinya dari bahasa ibu yang diwarisi sejak lahir.
BKPN sebagai bagian dari Tubuh Kristus berdasar pada Yesus Kristus. “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar selain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (I Korintus 3 : 11). BKPN sebagai Gereja yang am dan esa, mengakui eksistensi Allah Tritunggal yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta mengakui Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah yang berotoritas. Secara umum BKPN sebagai lembaga keagamaan yang hidup dan berkembang di Negara Republik Indonesia, secara idiil menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan secara konstitusionil berdasarkan UUD 45.
Kepemimpinan BKPN sejak tahun 1994 mengalami masa sulit dan tekanan berat, yang disebabkan faktor internal maupun faktor eksternal. Tantangan yang disebabkan faktor internal adalah dari anggota BKPN sendiri mengalami permasalahan, karena jika dilihat dari segi manajemen masih belum tertata rapi. Tata Gereja dan peraturan dalam pelaksanaan tugas pelayanan masih belum permanen. Hal itu disebabkan karena para pemimpin masih sangat terbatas jumlahnya, hanya 5 orang pendeta yang melayani di BKPN sejak berdirinya. Sumber daya majelis gereja dan anggota jemaat masih sangat sederhana, namun semangat pelayanan dan kemandirian sangat antusias. Dari segi organisasi masih terlihat kelemahan yang sangat signifikan karena perangkat pelayanan belum memadai. Kantor sekretariat masih disewa dengan kondisi satu ruangan, jumlah anggota Jeamat baru 11 Gereja lokal. Kondisi perekonomian masih sangat jauh di bawah standar karena mayoritas anggota BKPN di desa-desa rata-rata penerima bantuan IDT. Dari segi sosial budaya khususnya di Kecamatan Telukdalam mengalami kondisi statis karena struktur kemasyarakatan sangat dipengaruhi oleh pimpinan adat di desa yang disebut si’ila dan si’ulu, sehingga mempengaruhi kehidupan sosial politik di tengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya tantangan yang disebabkan faktor internal adalah dari anggota BKPN sendiri, sebab pada periode pertama terjadi konflik yang berkepanjangan di tubuh kepemimpinan BKPN. Hal itu terlihat diantara Majelis Pekerja Sinode ( MPS). Majelis Pekerja Sinode terdiri dari unsur, yaitu Pengurus Harian Sinode ( PHS ) yang dipimpin oleh Ephorus dan Badan pertimbangan Sinode ( BPS ) yang dipimpin oleh Ketua dan wakil ketua BPS selalu mengalami pertentangan baik pada setiap rapat maupun dalam kepemimpinan organisasi, sehingga akhirnya pada pertengahan periode pertama wakil ketua BPS an. Hurezame Sarumaha mengundurkan diri dari jabatan wakil ketua BPS dan keluar untuk membentuk organisasi gereja baru yang diberi nama Gereja Kristen Protestan Nias ( GKNI ) di bawah yayasan Betani di kecamatan Telukdalam. Hal ini menjadi pukulan berat bagi kelangsungan kepemimpinan gereja BKPN, karena sebagian besar anggotanya keluar dan bergabung dengan GKNI d ibawah kepemimpinan Hurezame Sarumaha.
Tantangan yang disebabkan faktor eksternal adalah sulitnya mendapatkan legalitas dari Bimas Kristen Departemen Agama Kabupaten Nias yang tidak bersedia memberikan rekomendasi.. Kedua adalah datangnya dari pihak BNKP selaku gereja asal , karena berpisahnya BKPN dari BNKP merupakan tindakan memecahkan keutuhan gereja di Nias yang telah terjalin selama ini.
Seiring dengan itu Yan Un Han dalam bukunya problematika Hamba Tuhan mengatakan bahwa, ”Di dalam gereja sebagai rumah Allah dan umat Kristen sebagai anak-anak Allah seharusnya diantara mereka tidak akan terjadi hal-hal yang kurang mengenakan yang dapat mempermalukan nama Tuhan. Tetapi manusia tetap manusia didalam tubuh jasmaniahnya masih banyak kelemahan meskipun sudah diselamatkan”.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa di dalam sejarah jelas terlihat Gereja tidak bisa melepaskan diri dari tantangan yang sebagian besar disebabkan karena konflik. Hal itu terlihat dari gereja pada jaman Rasul Paulus, khususnya di Jemaat Korintus (I Kor.1). Rasul Paulus memandang berat masalah itu, sehingga ia menulis surat kepada jemaat di Korintus dengan nasehat ”tetapi aku menasehatkan engkau demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir (I Kor 1:10)
Yan Un Han mengatakan bahwa konflik yang terjadi dalam gereja pada umumnya dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu: Pertama, ada sebagian orang Kristen yang belum dilahirkan baru, atau sudah dilahirkan baru tetapi mempunyai ambisi memegang kekuasaan dan mau menjadi bos dalam gereja. Kedua, Pimpinan gereja yang rohaninya cukup tinggi dan mempunyai dasar kuat di bidang kebenaran, adminstrasi, pelayanan dan organisasi yang karena berbeda pendapat, lalu saling menyerang dan mencela.
Sepanjang sejarah gereja terbukti bahwa kualitas pemimpin rohani sangat berpengaruh terhadap perkembangan jemaat. Jika pemimpin tidak berkualitas maka perkembangan jemaat akan terhambat. Sebaliknya, jika pemimpin berkualitas perkembangan jemaat maju pesat. Oleh karena itu, kepemimpinan Nehemia akan menjadi dasar para pemimpin masa kini memiliki kualitas pemimpin yang alkitabiah.
Lebih lanjut Yap Un Han menguraikan asal mula konflik: pertama adalah perbedaan pendapat bisa menjadi sumber konflik. Kedua, kesalah pahaman dalam berkata-kata dapat menimbulkan pertikaian. Sebenarnya kata-kata merupakan alat berkomunikasi untuk menyampaikan isi hati, tetapi sering kali kata-kata menimbulkan kesalahpahaman yang mengakibatkan munculnya konflik. Ketiga, Perbedaan diantara para jemaat dapat menjadi pangkal keributan. Keempat, masalah yang terjadi di antara hamba Tuhan dan Majelis Gereja dapat menimbulkan gelombang konflik dalam gereja. Kelima, masalah timbul antara para majelis dengan para anggota gereja. Jabatan penatua atau majelis merupakan jabatan kudus dan bukan gelar, karena itu harus digunakan sebagai kesempatan untuk melayani. Tetapi jabatan kudus itu sering dipergunakan sebagai kesempatan untuk memegang kekuasaan. Keenam, masalah antara hamba Tuhan dengan anggota Jemaat.
Hal-hal tersebut dialami juga dalam kepemimpinan Gereja BKPN dekade 1994-2004 sehing penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam sebuah judul: Kepemimpinan gereja BKPN pada dekade 1994 -2004 dalam persepektif masa mendatang. Secara khusus untuk meneliti Bagaimana model/sistim kepemimpinan yang diterapkan, bagaimana gaya kepemimpinan BKPN serta apa fungsi kepemimpinan di BKPN. Dengan menemukan hal tersebut apakah bisa menjadi acuan atau pedoman dalam kepemimpinan BKPN pada masa mendatang.
Dari fakta sejarah gereja mula-mula mengalami pertumbuhan pada saat-saat yang sulit : dianiaya, disiksa namun Injil tidak pernah terbelenggu (Kisah Para Rasul 8:1-13). Masa-masa sulit sering kali gereja menjadi takut karena teraniaya, tetapi Paulus berpesan bahwa untuk masuk dalam kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.
Ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dari perbudakan ke tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya umat pilihan Allah mengalami penekanan, tetapi justru dalam kondisi seperti itulah Kuasa Allah dinyatakan (Kel. 2-14). Allah berpihak kepada umat-Nya dengan tanda-tanda ajaib kepada Raja Firaun. Musa berpesan untuk menguatkan hati bangsa Israel, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan yang akan diberikan-Nya pada hari ini kepadamu, sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini tidak akan kamu lihat lagi (Kel. 14:13-14). Yakub Hosana mengatakan bahwa dalam realita pelayanan dan kepemimpinan gereja semakin dihambat semakin merambat.
Dari pemahaman itu penulis berpendapat bahwa tantangan yang dihadapi dalam kepemimpinan gereja merupakan suatu pembelajaran untuk melihat karya Allah yang besar selaku kepala Gereja dalam menyatakan misinya di bumi. Tantangan apapun yang dihadapi oleh gereja dalam kepemimpinannya tidak perlu tawar hati untuk menjalankannya dalam pelayanannya karena kristus sang pencipta akan sanggup melakukan segala perkara yang ajaib sebagaimana janji penyertaan Tuhan “ Kepada Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi, karena itu pergilah, jadikan semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku senantiasa menyertai kamu sampai kepada akhir jaman (Mat 28:18-20).
Tantangan apapun yang dihadapi oleh gereja tidak akan menghambat kepemimpinannya dalam menjalankan amanat Agung Tuhan Yesus Kristus, karena sang pemberi mandat selalu menyertai sampai kepada akhir zaman. Karena janji itu kekal harus diyakini oleh para pemimpin gereja yang dipercaya untuk mengorganisir tubuh Kristus di bumi, karena kuasa Allah lebih besar dari kuasa yang ada di dunia ini.

B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam penelitian adalah untuk mengetahui beberapa hal kondisi kepemimpinan BKPN dekade 1994 – 2004 dalam perspektif pada kepemimpinan mendatang, yang meliputi empat hal :
1. Timbulnya ambisi para tokoh gereja untuk menjadi pemimpin di BKPN?
2. Ditemukan indikasi-indikasi bahwa para pemimpin BKPN belum lahir baru?
3. Terjadi kesalahpahaman di antara pemipimpin BKPN dalam kapasitas sebagai Majelis PekerjaSinode
4. Semangat kemandirian dalam kepemimpinan di BKPN belum optimal

C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, sebagaimana telah dipaparkan di atas, maka mengingat keterbatasan, waktu, dan dana serta jumlah populasi yang terlalu banyak, maka penelitian ini hanya dikhususkan pada kajian tentang kepemimpinan gereja BKPN dekade 1994 – 2004 dan refleksinya pada kepemimpian mendatang.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dibatasi pada empat hal yaitu :
1. Bagaimana kondisi kepemipinan gereja BKPN
2. Bagaimana kondisi Struktur organisasi gereja BKPN
3. Bagaimana Model kepemimpinan gereja BKPN
4. Bagaimana kondis sosial ekonomi anggota jemaat BKPN
5. Bagaimana kondisi politik dan budaya disekitar pelayanan BKPN

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memberikan informasi untuk mengetahui dengan akurat tentang :
1. Kondisi kepemimpinan Gereja BKPN pada dekade 1994 – 2004
2. Kondisi struktur organisasi BKPN
3. Model Kepemimpinan gereja BKPN
4. Kondisi sosial-ekonomi
5. Kondisi politik dan budaya di sekitar gereja BKPN.

F. Manfaat Penelitian
Apabila penelitian ini dapat mencapai tujuan, maka hasilnya dapat berguna secara teoritis dan praktis. Secara teoritis dapat menjadi masukan bagi gereja-gereja dalam kepemimpinan. Dengan adanya informasi yang akurat tentang kondisi kepemimpinan Gereja BKPN dekade 1994 – 2004, maka dapat menjadi pedoman dalam kepemimpinan pada masa mendatang dalam melaksanakan tugas panggilannya di tengah situasi dan kondisi yang sangat sulit. Secara praktis dapat dimanfaatkan oleh para pelayan dan warga jemaat pada umumnya dan BKPN pada khususnya.

G. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Keuletan para pemimpin BKPN pada dekade 1994-2004 akan menjadi pendorong para pemimpin BKPN pada kepemimpinan masa mendatang kearah yang lebih baik
2. Jika pemimpin gereja BKPN mengenal kelemahan dan kekuatan kepemimpinan pada dekade 1994-2004, maka kepemimpinan masa mendatang akan lebih berhasil dan berdaya guna.
3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (libary research) yaitu dengan membaca buku-buku literatur yang berhubungan dengan judul Tesis dan dokumen-dokumen yang ada di kantor Sinode BKPN. Selain itu juga menggunakan penelitian lapangan (field research) dengan cara wawancara serta pengamatan langsung
4. Konsep dan Defenisi
Untuk menghindari berbagai kemungkinan terjadinya perbedaan penafsiran terhadap defenisi operasional, maka dalam penelitian ini defenisi operasional sebagai berikut :
a. Pemimpinan adalah Pelayan Gerejawi di BKPN yang dipilih pada setiap persidangan sinode untuk memimpin gereja se sinode BKPN selama satu periode empat tahun Tantangan adalah kesulitan yang dihadapi oleh gereja BKPN dalam pelayanan.
b. Model Pelayanan adalah cara dan bentuk yang dilakukan dalam kepemimpinan .
c. Struktur orgasasi adalah jenjang kepemimpinan mulai dari sinode sampai di jemaat yang diatur sesuai dengan amanat Tata gereja dan Peraturan Rumah Tangga di BKPN
d. BKPN adalah satu gereja yang ditempatkan Tuhan dengan pusat Sinode di Telukdalam Ibukota Kabupaten Nias Selatan
e. Pelayan adalah para Pendeta, guru Injil, penatua dan pengurus Departemen (Komisi) yang melayani di Gereja BKPN.
5. Teknik Pengumpulan Data
Data ini berupa pendapat responden tentang keadaan yang sebenarnya berkaitan dengan kondisi kepemimpinan selama melaksanakan tugas pelayanan, baik menyangkut organisasi, ekonomi, sosial budaya dan politik. Data ini diperoleh dengan teknik wawancara dan angket (kuesioner) yang di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan.
6. Teknik Penyajian Data
Data-data yang telah didapatkan akan diolah untuk kemudian dideskripsikan.

H. Sistematika Penulisan
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Penelitian
G. Hipotesis
H. Metode Penelitian
I. Konsep dan Defenisi
J. Teknik Pengumpulan Data

BAB II . KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN
1. KEPEMIMPINAN SECARA UMUM
a. Pengertian Kepemimpian
b. Fungsi Kepemimpinan
c. Tujuan kepemimpinan
d. Aspek-aspek yang yang mendukung suatu kepemimpinan
2. KEPEMIMPINAN KRISTEN
a. Syarat-syarat menjadi pemimpin Kristen
b. Fungsi pemimpin Kristen
c. Tujuan Kepemimpinan Kristen
d. Visi dan Misi pemimpin Kristen
2. KEPEMIMPINAN TRANSFORMASI

BAB III. KEPEMIPINAN BKPN PADA DEKADE 1994 – 2004
1. SEJARAH BERDIRINYA BKPN
1.1. Latar belakang berdirinya BKPN
1.1.2. Gambaran Umum BKPN Dewasa ini

2 KEPEMIMPINAN BKPN
2.1. Model Kepemimpinan
2.2 Gaya Kepemimpinan dan Persekutuan
a. Terbuka terhadap koreksi
b. Terbuka terhadap segala Perubahan
c. Berani memikul tanggung jawab dan beban
d. Berkarya untuk kepentingan Masyarakat
2.3 Fungsi Kepemimpian
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pelaksanaan
d. Monitoring
e. Evaluasi .
2.4 Masalah dan tantangan umum
a. Sikap yang tidak mau mengalah
b. Pengaruh Kepemimpinan Feodal

3. VISI DAN MISI BKPN
BAB IV. ANALISA KEPEMIMPINAN BKPN
1. Konsep Kepemimpinan Masa Lalu
2. Konsep Kepemimpinan Masa Mendatang
BAB V. KESIMPULAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
Menuliskan beberapa nama yang dikutip karyanya dalam Tesis ini baik secara langsung maupun pandangan penulis.

345BKNILS

BAB II

KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN

KEPEMIMPINAN SECARA UMUM

A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Nugroho mengatakan bahwa ”banyak sekali arti yang diberikan dalam pengertian kepemimpan. Mulai dari sekuler liberal hingga konserpatif tradisional. Sekuler liberal menekankan kepada sebuah konsep yang modern dan mutakhir, sedangkan konserpatif primitip berorientasi kepada pemikiran kuno.

Sudah menjadi keharusan bahwa didalam setiap kelompok masyarakat selalu dirasakan perlu adanya pemimpin. Hal ini tidak hanya berlaku dalam kelompok atau organisasi yang besar , tetapi juga dalam kelompok- kelompok kecil.

Pemimpin berasal dari akar kata pimpin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “Pimpin” mempunyai pengertian bimbing atau tuntun, sedangkan pemimpin adalah orang yang memimpin. Memimpin: memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dan sebagainya), mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dsb), memandu, memenangkan paling banyak, melatih (mendidik, mengajari, dan sebagainya)

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, Balai Pustaka: Depdikbud), dari pengertian memimpin kita banyak sekali menjumpai kata kerja/verb. Berarti dalam pengertian memimpin lebih banyak bersifat aktif dan bukan pasif. Di sini dapat kita lihat pemimpin harusnya adalah seorang yang proaktif yang menjadi perintis/pionir bagi orang-orang di sekitarnya. Bukan sebaliknya menunggu bawahan untuk bersifat proaktif dalam menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan sisa pekerjaan bawahan yang belum beres.

Prinsip pertama yang membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler adalah yang satu menyangkal dirinya dan membiarkan Kristus memanifestasikan diri-Nya sedang yang lainnya mengembangkan dirinya dengan berbagai metode kejiwaan.

Bernard M. Bass menjelaskan tentang arti kepemimpinan sebagai berikut:

(1). Kepemimpinan adalah sebagai fokus dari proses kehidupan kelompok.

Pemimpin sebagai satu fokus dari perubahan, aktivitas dan proses dari kehidupan suatu kelompok. Kecenderungan yang ditimbulkan oleh pendapat ini ialah bahwa perhatian telah diarahkan kepada kepentingan struktur dan proses kelompok dalam kepemimpinan. Definisi kepemimpinan, khususnya pada sisi ini ialah bahwa pemimpin telah diartikan sebagai “orang yang tempatnya di atas atau di depan kelompoknya.” Kecenderungan lain yang menopang definisi ini ialah adanya lokasi sentral untuk mengontrol struktur dan sistem kehidupan kelompok, komunikasi, dan hal menempatkan seseorang dalam posisi kepemimpinan.

(2). Kepemimpinan adalah sebagai personalitas dan efek-efeknya. Konsepsi ini muncul dari pandangan bahwa beberapa orang ternyata lebih baik dan lebih mampu dari yang lain dalam peranan kepemimpinan. Kekuatan personalitas dianggap dapat mengangkat seseorang pada definisi kepemimpinan. Kepemimpinan. Hal yang terlupakan di sini ialah adanya; hubungan timbal balik dan interactive characteristic dari situasi kepemimpinan yang melibatkan para bawahan serta kondisi/situasi yang dalam mekanisme sosial yang saling mempengaruhi dan secara sosial mendorong seseorarg pribadi ke arah potensi menjadi pemimpin. Perlu disadari, bahwa faktor personalitas pribadi turut berperan dalam kepemimpinan, tetapi yang perlu diawasi ialah tekanan ekstrim yang nantinya mencipta “pemimpin-pahlawan” yang cenderung menjadi otokratis berat.

(3). Kepemimpinan adalah sebagai seni penyebab terwujudnya pemenuhan pencapaian. Kecenderungan yang paling kuat dari definisi ini ialah adanya tekanan pada individualitas pemimpin dengan pengaruh terarah yang ada padanya, yang olehnya pemimpin mempengaruhi kelompok untuk menerima kehendaknya sebagai kehendak mereka. Salah satu bahaya yang jelas dari konsep ini ialah adanya kecenderungan ke arah mendukung kepemimpinan otoriter berat yang tidak menghargai hak, keinginan dan kebutuhan anggota kelompok. Di samping itu, ada fakta yang tidak boleh diingkari yaitu adanya kenyataan otoritarian, direktif dan kursif dalam kepemimpinan yang dapat diterapkan secara ekstrim. Disini pemimpin dapat dianggap segala-galanya dalam kepemimpinan. Karena itu, bahagian ini hanya menekankan tentang fakta bahwa kepemimpinan itu penting, dimana kepemimpinan menentukan penyebab dan dinamika yang menggerakkan usaha untuk memenuhi sesuatu yang ingin dicapai.

(4). Kepemimpinan adalah sebagai pelaksanaan pengaruh. Definisi ini cenderung mengarah kepada generalitas dan abstraksi dalam menjelaskan tentang kepemimpinan. Kepemimpinan di sini dilihat sebagai ”proses pengaruh”, yang secara khusus menekankan tentang kepemimpinan yang melaksanakan ”efek yang telah ditetapkan sebelumnya. Konsep ini didasarkan atas usaha mengubah perilaku, dimana bila perilaku anggota-anggota kelompok sungguh berubah, maka ini dapat merupakan bukti dari kepemimpinan yang berhasil. Yang perlu diperhatikan dan definisi ini ialah adanya kecenderungan bahwa peranan dan tanggung jawab para bawahan yang disepelekan, dimana kepemimpinan dapat dianggap sebagai ”manipulasi psikologis” yang bersifat satu arah saja.

(5). Kepemimpinan adalah sebagai suatu kegiatan atau perilaku terarah. Pada bagian ini kepemimpinan dilihat sebagai suatu kegiatan atau perilaku yang menggerakkan dalam proses kepemimpinan. Tegasnya, kegiatan atau perilaku pemimpin adalah dasar mewujudkan kepemimpinan. Respon anggota-anggota kelompok terhadap perilaku pemimpin menandakan adanya kepemimpinan yang efektif. Yang perlu diwaspadai ialah bahwa kepemimpinan dilihat sebagai mekanisme sosial yang memperlakukan manusia sebagai mesin.

(6). Kepemimpinan adalah sebagai suatu bentuk persuasi. Konsep ini diketengahkan dalam usaha menjagal faktor kursif dalam kepemimpinan, yang menempatkan pemimpin sebagai sentra penentu dalam hubungan dengan para pengikut. Di sini, bentuk persuasi dalam performansi manajemen memperoleh tempat utama. Sikap persuasi dianggap sebagai sifat yang kuat yang membentuk ekspektasi dan keyakinan dalam kepemimpinan, khususnya dalam bidang sosial, politik dan agama. Sikap persuasi dianggap bernilai positif, dibanding dengan sikap kursif (coersive) dalam kepemimpinan. Perlu pula disadari bahwa disini faktor persuasi sangat ditekankan sehingga mengabaikan faktor kursif, padahal, faktor kursif ini adalah penting dalam kepemimpinan. Dengan sikap/faktor kursif ini, pemimpin dapat bertindak tegas terhadap para bawahan yang tidak berdisiplin.

(7) Kepemimpinan adalah sebagai hubungan kuasa. Tekanan yang diberikan di sini ialah ”hubungan kuasa differensial” di antara anggota kelompok, dimana “kuasa interpersonal dengan kekuatan maksimum dari seseorang pemimpin kepada bawahan dengan kekuatan kurang dari maksimum akan menjadi penyebab penggerak ke arah yang bertentangan.”Konsep ini sangat berhubungan dengan lima kuasa dasar, yaitu: referent power (liking), expert power, reward power, coersive power, dan legitimate power. Kuasa di sini dilihat sebagai influence relationship yang adalah dinamika kepemimpinan. Kuasa kepemimpinan menjadi suatu kekuatan positif bila ada pengendalian dalam hubungan pemimpin-bawahan. pendekatan ini, apabila diterapkan dengan wajar, akan membawa kepada pengembangan sikap saling percaya, kuterbukaan dan partisipasi aktif. Hal yang harus disadari ialah adanya pemahaman serta penerapan ”Kuasa Kepemimpinan” yang salah dan ekstrim sehingga muncul sikap otokrat mutlak (diktator) dalam kepemimpinan. Faktor otokrat tentunya penting dalam kepemimpinan, walau demikian, akan menjadi salah (apabila salah digunakan) dimana kuasa dijalankan dengan sikap otokrat/ekstrim, sehingga menciptakan gaya kepemimpinan diktatoristik.

(8). Kepemimpinan adalah sebagai alat pencapaian tujuan. Kepemimpinan dalam pengertian ini dilihat dari segi nilai instrumentalnya untuk mencapai tujuan/sasaran (objectives) dari kelompok, dimana kepemimpinan dilihat sebagai alat pemuas kebutuhan. kepemimpinan adalah the human factor which binds a groups together and motivatess it toward goals. Kepemimpinan di sini untuk mencapai tujuan/sasaran (objective) dari organisasi. Dengan adanyaa kepemimpinan, maka ada kekuatan yang menggerakan manusia ke arah tujuan/sasaran yang telah direncanakan.

(9). Kepemimpinan adalah sebagai efek yang berkembang karena interaksi. Kepemimpinan di sini dijelaskan sebagai efek yang timbul dari interaksi antara pemimpin dan bawahan dalam lingkungan kerja organisasi. Tekanan yang perlu disimak ialah fakta bahwa kepemimpinan berkembang dari proses interaksi sosial antara pemimpin dan anggota kelompok. Dengan adanya pengakuan dan dukungan dari anggota kelompok terhadap pemimpin, sebagai bagian dari interstimulasi sosial dalam proses kepemimpinan. Dengan definisi seperti ini, kepemimpinan menempati posisi penting dalam mekanisme sosial, tetapi hal yang perlu disadari ialah bahwa apabila tidak terjadi proses interstimulasi, maka dapt disimpulkan bahwa tidak ada kepemimpinan.

(10). Kepemimpinan adalah suatu peranan yang berbeda. Kepemimpinan dilihat sebagai penyelenggaraan peranan (role) yang berbeda-beda antara pemimpin dan bawahan dalam keseluruhan struktur organisasi yang dilaksanakan. Pemahaman kepemimpinan di sini meliputi kesadaran akan kenyataan bahwa kepemimpinan adalah pencapaian goal dan kepemimpinan pun adalah suatu produk interaksi dan peranan yang berbeda-beda antara pemimpin-bawahan. Konsep ini menopang pengembangan suatu teori kepemimpinan yang koherent dalam upaya pelaksanaan kepemimpinan. Pendekatan ini diakui bahwa baik pemimpin maupun bawahan sama-sama memiliki peranan yang berbeda-beda, dan keduanya memiliki tempat yang khusus dalam proses kepemimpinan.

(11). Kepemimpinan adalah sebagai inisiasi struktur. Tekanan yang menjelaskan tentang kepemimpinan disini diberikan pada originating and maintaining role structure. Anggota kelompok dibedakan satu dari yang lain dengan melihat tempat dimana setiap orang berada dalam struktur organisasi serta bagaimana tugas mereka diorganisir. Organisasi membentuk struktur dalam suatu hirarki. Dalam struktur ini, stimulasi pemimpin akan memberi struktur kepada perilaku anggota yang berada dalam matriks organisasi tersebut.

Floyd Ruch menguraikan Tugas-tugas pemimpin adalah sebagai berikut:

1). Structuring the situation, pemimpin bertugas untuk memberi struktur yang jelas terhadap situasi rumit yang dihadapi kelompok.

2). Controlling group behaviour, pemimpin mengawasi tingkah laku anggota kelompoknya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

3). Spokesman of the group, pemimpin dapat menjadi juru bicara sebagai wakil kelompoknya pada pihak luar.

A.A. Gede Putra Partanta mengatakan bahwa, “Ada banyak definisi mengenai kepemimpinan, beberapa diantaranya”

1). Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan.

2). Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan kelompok .

3). Kepemimpinan adalah tindakan/perbuatan di antara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik seseorang maupun kelompok maju ke arah tujuan-tujuan tertentu.

Petrus Octavianus mengatakan bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah pertama; mengambil keputusan, kedua; menentukan metode /Sistim yang dipakai, ketiga; menetukan prosedur yang dipakai, keempat; mengawasi dan menegakkan displin, kelima; mengontrol secara keseluruhan.

Jeff Hammond menguraikan kriteria yang disebut pemimpin adalah: Pertama; Seorang pemimpin adalah seseorang yang berjalan di depan dan menunjuk jalan. Kedua; seorang pemimpin harus memiliki visi dan tujuan. Ketiga; pemimpin adalah orang yg mengarahkan dan menuntun orang lain.

Selanjutnya beliau menguraikan sembilan karakteristik pemimpin yang sukses, pertama; mengenal Tuhan, kedua Profetik-sanggup mengatisipasi masa depan, ketiga pencetus strategi-sanggup menrencanakan strategi, keempat komunikator-sanggup mengkomunikasikan visi dan strateginya, kelima motifator-sanggup memoitifasi orang lain, keenam menjadi teladan- sanggup memberi contoh yang baik, ketujuh otoritas – sanggup menggunakan wewenang dengan baik, kedelapan pengurus – sanggup mengkoordinir sumber daya, sembilan ; bapak – memiliki hati seorang bapak

Setiap orang percaya dapat menjadi pemimpin, karena Tuhan berkehendak agar orang percaya menjadi pemimpin dalam pelaksanaan tugas Ilahi demi pembangunan jemaat sebagai tubuh Kristus dan kerajaan Allah. Seiring dengan itu P. Octavianus mengatakan bahwa ” pemimpin adalah seorang yang mengetahui tujuannya dengan jelas dan mempunyai keyakinan pribadi tentang tujuan itu. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dalam garis wahyu Allah seseorang menjadi pemimpin apabila ia dipililih dan ditetapkan oleh Allah.

Pemilihan dan penetapan Allah adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpin, sebab kita diciptakan bukan untuk pekerjaan yang bernilai sementara, melainkan yang bernilai kekal (Ef 2:10). Pilihan Allah atas seorang pemimpin bukan bergantung keadaan fisik manusia, melainkan atas kehendak dan pembentukanNya sejak seseorang itu berada dalam kandungan ibunya. Daud sebai pemimpin yang besar yang berkenan kepada Tuhan mengakui penciptaan Allah atas dirinya sejak didalam kandungan ibunya ( Maz 139:13 ). Demikian juga Yeremia seorang Nabi besar yang tercatat dalam sejarah agama Israel telah menerima penetapan Tuhan atas dirinya sejak dikandungan ibunya menjadi seorang nabi, penyambung lidah Allah (Yer 1:5). Seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk memimpin. Paulus mengatakan bahwa ” orang yang menginginkan jabatan penilik jemaat, menginginkan pekerjaan yang baik. Artinya adanya kerinduan dan keinginan untuk perkara-perkara yang mulia. Seorang pemimpin mengutamakan fungsi, bukan jabatan. Panggilan Tuhan yang memberi motifasi untuk melayani sebagai pemimpin karena itu fungsi pelayanan lebih utama dari pada jabatan dan kedudukan.

Selanjutnya Jeff Hammond menjelaskan motifasi kepemimpinan yang benar adalah; Pertama, motifasi memuliakan Allah, artinya melayani Allah diberi semua kemuliaan. Kedua, motifasi penggembalaan, artinya melayani demi kebaikan mereka yang di pimpinnya. Hal itu yang diungkapkan Paulus dalam suratnya di jemaat korintus. ”Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat “ ( I Kor 10 32 – 33).

R.P. Borong mengatakan bahwa “Pemimpin merupakan salah satu fenomena sosial yang selalu hadir dalam interaksi sosial. Dari yang paling sederhana dalam rumah tangga sampai kepada yang paling luas, seperti pemimpin Negara, atau perusahaan multinasional. Kepemimpinan juga merupakan pengalaman semua orang yang telah dimulai sejak manusia pertama di bumi yang meliputi semua unsur dan lapisan masyarakat. Dilihat dari sudut pandang seni, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah seni yang usianya setua usia manusia di bumi yang telah dipraktekkan sepanjang sejarah manusia. Hal itu merupakan mandat Allah sejak manusia diciptakan sebagimana dikatakan dalam Amsal 11:14 mencatat, Bangsa akan hancur jika tidak ada pemimpin, semakin banyak penasehat, semakin terjamin keselamatan. Ini berarti bahwa dalam menata kehidupan bersama baik sebagai bangsa maupun sebagai gereja setidaknya diperlukan dua komponen yang saling berkaitan yaitu pemimpin dan yang dipimpin. Allah menempatkan gereja sebagai terang dan garam ditengah kepemimpinan bangsa dan Negara, yang berfungsi sebagai penasehat dan iluminasi.

Menurut P.Octavianus semua yang dilahirkan dengan jiwa kepemimpinan disebut manusia ajaib. Tetapi apakah seoang pemimpin itu dilahirkan atau dijadikan Menjadi pemimpin sejak lahir. Untuk menjawab pertanyaan ini maka beberapa teori dasar yang perlu dipahami:

1. Terori Genetis ( Heriditas ) yang dianut oleh “Leaders are born and not made”. Penganut teori ini percaya bahwa seseorang menjadi pemimpin oleh karena memang ia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan. Dalam situasi apapun orang seperti ini pasti akan menjadi pemimpin karena kharismanya. Secara Philosofis pandangan ini bersifat deterministis.

2. Teori sosial; (bertentangan dengan teori Genetis) menganut “Leader are made and not born”. Mereka percaya bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin, kalau dia memperoleh pendidikan dan pengalaman serta mempunyai kesempatan yang cukup

3. Teori Ekologis; Menurut teori Ekologis, seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik kalau dia memiliki bakat-bakat yang bersifat Genetis. Tetapi bakat-bakat ini hanyalah suatu potensi yang perlu dikembangkan lebih lanjut melalui pendidikan, pengalaman dan kesempatan.

Secara horizontal, ketiga teori ini memiliki kebenaran yang relatif, sebab yang menjadi tolak ukur siapa yang boleh memimpin hanyalah manusia itu sendiri yang mempunyai keterbatasan. Keputusan manusia tidaklah sampai kepada ukuran yang baik, sehingga kriteria manusiawi berubah suatu saat. Banyak pemimpin mengalami nasib yang sama dengan para penemu ilmu pengetahuan modern. Mereka tercatat dalam sejarah sebab pernah menemukan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia. Thomas Alfa Edison dengan listiknya, Phytagoras dengan dalil eksatanya, Von Brown dengan angkasa luarnya. Para pemimpin yang demikian disebut pembuat sejarah, karena karya mereka mengawali lembaran-lembaran baru dalam catatan sejarah dan karya mereka menjadi kenyataan.

Menjawab siapa yang boleh memimpin, bukan bertolak dari kelahirannya, bakatnya, kesempatan atau keterpaduan dari ketiga unsur ini. Sebab kekuatan ketiga unsur ini hanyalah menghasilkan buah yang bersifat sementara, tetapi pemimpin yang dipilih dan ditetapkan oleh Allah, yang karyanya berbuah untuk kekekalan. Pemilihan dan penetapan Allah adalah syarat mutlak untuk mencari seorang pemimpin, sebab kita diciptakan bukan untuk pekerjaan yang bernilai sementara, melainkan yang bernilai kekal (Ef 2:19).

Pilihan Allah atas seorang pemimpin bukan bergantung atas materi fisik manusia, melainkan atas kehendak dan pembentukannya berdasarkan sikap hati. Hal itu dialami oleh Raja Daud ketika dirinya diurapi oleh Samuel menjadi raja atas Israel. TUHAN berkata kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” ( I Sam 16:7 ). Kemudian di suruhnya lah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia. “Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud (ISam16:12-13). Daud seorang pemimpin besar yang berkenan kepada Allah mengakui penciptaan Allah akan dirinya sejak dalam kandungan ibunya ( Mam139 :13 ). Akhirnya Daud tercatat sebagai pemimpin besar dalam sejarah Israel karena dia ditetapkan oleh Allah.

B. FUNGSI KEPEMIMPIAN

Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Hadari Nawawi (1995:74), fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi yang berhubungn langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masyarakat yaitu:

1. Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinya.

2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin.

Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:

1. Fungsi Instruktif.

Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif.

2. Fungsi konsultatif.

Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Burgoon, Heston dan McCroskey menguraikan adanya delapan fungsi Kepemimpinan, yaitu:

a). Fungsi inisiasi (initiation).

Dalam fungsi ini, seorang pemimpin perlu mengambil prakarsa untuk menciptakan gagasan-gagasan baru, namun sebaliknya tugas pemimpin yang memberi pengarahan ataupun menolak gagasan-gagasan dari anggota kelompoknya yang dinilai tidak layak. Inisiatif dalam artii menciptakan ataupun menolak ide-ide baru baik yang berasal dari pimpinan itu sendiri ataupun dari anggota kelompoknya perlu untuk dilaksanakan, sebab pemimpin mempunyai tanggung jawab yang lebih besar terhadap keberadaan atau eksistensi kelompok yang dipimpinnya, disamping itu yang lebih penting adalah tanggung jawab untuk terlaksananya tujuan-tujuan kelompok.

b) Fungsi keanggotaan (membership).

Salah satu bagian dari perilaku seorang pemimpin adalah memastikan bahwa dirinya juga merupakan seorang anggota kelompok. Perilaku tersebut dijalankannya dengan cara meleburkan atau melibatkan dirinya dalam kelompok serta melakukan aktivitas yang menekankan kepada interaksi informal dengan anggota kelompok lainnya.

c) Fungsi perwakilan (representation).

Seorang pemimpin tidak jarang harus melindungi dan mepertahankan para anggotanya dari ‘ancaman-ancaman’ yang berasal dari luar, inilah makna dari fungsi perwakilan dalam kepemimpinan kelompok. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menjadi wakil atau juru bicara kelompok di hadapan kelompok lainnya.

d) Fungsi organisasi (organization).

Dalam fungsi ini tanggung jawab terhadap hal-hal yang bersangkut paut dengan persoalan organisasional seperti struktur organisasi, kelancaran roda organisasi dan deskripsi kerja ada ditangan seorang pemimpin, sehingga ia perlu memiliki bekal kemampuan mengelola organisasi yang tentunya lebih baik dibandingkan anggota kelompok lainnya.

e) Fungsi integrasi (integration).

Seorang pemimpin perlu mempunyai kemampuan untuk memecahkan ataupun mengelola dengan baik konflik yang ada dan muncul di kelompoknya. Dengan bekal kemampuan tersebut diharapkan seorang pemimpin dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk tercapainya penyelesaian konflik yang dapat memberikan kepuasan kepada semua anggota kelompok.

f) Fungsi manajemen informasi internal (internal information management).

Pimpinan pada suatu waktu tentu harus memberi sarana bagi berlangsungnya pertukaran informai ini di antara para anggotanya dan juga mencari masukan-masukan tentang bagaimana sebaiknya kelompoknya harus merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program kerjanya, inilah hasil penting dari fungsi manajemen informasi internal yang perlu ada dalam kepemimpinan kelompok.

g) Fungsi penyaringan informasi (gatekeeping).

Dalam fungsi ini, seorang pemimpin bertindak sebagai pemyering sekaligus manajer bagi informasi yang masuk dan keluar dari kelompok yang dipimpinannya. Fungsi tersebut dilakukan sebagai usaha untuk mengurangi terjadinya konflik di dalam kelompok ataupun dengan kelompok lain, karena informasi yang ada dalam kelompok tersebut telah terseleksi.

h) Fungsi imbalan (reward).

Terakhir, dalam fungsi imbalan atau ganjaran, pemimpin melakukan fungsi evaluasi dan menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh para anggotanya. Hal ini dilakukan pimpinan melalui imbalan-imbalan materi seperti peningkatan gaji, pemberian kenaikan pangkat jabatan, pujian ataupun penghargaan. Banyak anggota kelompok sangat sensitif terhadap kekuatan imbalan dari pimpinannya, sehingga pkerjaan ataupun tugas yang dilakukannya diarahkan untuk memperoleh imbalan tersebut.

Abdul Rosyid mengatakan bahwa, Pada dasarnya, fungsi kepemimpinan memiliki dua aspek dasar yaitu:

1. Fungsi administrasi, yaitu mengadakan formulasi kebijasanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya

2. Fungsi sebagai top manajemen, yaitu mengadakan planning, organizing, staffing, directing commanding, controlling, dan sebagainya.

Muh Rosyid mengemukakan bahwa, Fungsi kepemimpinan terbagi dua yaitu:

1. Fungsi strategis : mengembangkan keterpaduan arah bagi organisasi atau kelompok

2. Fungsi taktis : merumuskan tugas – tugas yang diperlukan untuk mencapai tujuan kelompok/organisasi dan memastikan efektivitas pelaksanaan tugas-tugas tersebut.

Fungsi-fungsi kepemimpinan di atas tidak memilah-milah pemimpin puncak, menengah atau tingkatan yang lebih rendah. Kesemua fungsi itu dilaksanakan oleh semua pemimpin, apapun statusnya. Hanya memang fungsi strategis lebih menonjol pada perencanaan dan tahap-tahap awal perubahan. Sedangkan fungsi taktis lebih nyata selama proses perubahan telah tercapai.

Sarwo Kusumaatmadja, mengemukakan fungsi-fungsi kepemimpinan adalah:

1). Menumbuhkan inspirasi dan motivasi.

2). Menciptakan arah.

3). Memberikan keteladanan

4). Membangun solidaritas .

5). Merintis terobosan.

Sekiranya fungsi-fungsi kepemimpinan berjalan semestinya maka perubahan tidak menjadi kendala, namun menjadi peluang. Organisasi yang tumbuh dari kepemimpinan yang baik adalah timbulnya kepercayaan yang pada gilirannya menumbuhkan harapan.

Ratna, S., dkk mengemukakan bahwa Fungsi kepemimpinan adalah Membantu kelompok untuk: a).Menentukan kegunaan dan tujuan, b). Memfokuskan diri pada proses kerja secara bersama, c).Lebih waspada/memperhatikan akan sumber-sumber yang dimiliki, dan cara yang terbaik untuk memanfaatkannya. d).Mengevaluasi kemajuan dan perkembangan. e).Menjadi terbuka untuk ide baru dan ide yang berbeda, tanpa menjadi berhenti karena konflik.

S. Bekti Istiyanto mengemukakan bahwa, “Ada dua pendapat tentang peranan atau fungsi pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya, yaitu:

1. Tinjauan yang bersifat Operasional Praktis, dimana tinjauan kepemimpinan dipandang sebagai suatu proses yang terjadi dalam suatu kelompok. Fungsi pemimpin adalah:

a. Merumuskan situasi dan mengemukakan konsepsi tertentu perihal masalah tersebut

b. Mengajukan saran sugestif, penyelesaian persoalan apabila diharapkan dan kemudian memberikan keputusan penyelesaian

c. Melaksanakan keputusan penyelesaian problema.

2. Tinjauan yang bersifat Konsepsional Teoritis, dimana seorang pemimpin dalam batas tertentu harus melaksanakan fungsi: planner, executive, police maker, expert, external group representatif, controller of internal relationship, exemplar, symbol og the group, ect.

Menurut Siagian (1988) ada lima fungsi pemimpin dalam suatu organisasi maupun dalam suatu komunitas masyarakat, yaitu :

1. Selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan.

2. Wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi.

3. Selaku komunikator yang efektif.

4. Mediator yang handal khususnya dalam hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik.

5. Selaku integrator yang efektif, rasional, obyektif dan netral.

C. TUJUAN KEPEMIMPINAN

Menurut Santoso ”Tujuan kepemimpinan meliputi tujuan organisasi, tujuan kelompok, tujuan pribadi anggota kelompok, dan tujuan pribadi pemimpin”.

1. Tujuan organisasi dimaksudkan untuk memajukan organisasi yang bersangkutan dan menghindari diri dari maksud-maksud yang irasional organisasi yang ada.

2. Tujuan kelompok dimaksudkan untuk menanamkan tujuan kelompok pada masing-masing anggota sehingga tujuan kelompok dapat segera tercapai.

3. Tujuan pribadi anggota kelompok maksudnya untuk memberi pengajaran, pelatihan, penyuluhan, konsultasi bagi tiap anggota kelompok sehingga anggota kelompok dapat mengembangkan pribadinya.

4. Tujuan pribadi pemimpin maksudnya untuk memberi kesempatan pada pimpinan berkembang dalam tugasnya, seperti mempengaruhi, memberi nasehat, dsb.

Kepemimpinan adalah sebuah peperangan, berjuang sampai menang. Berjuang dengan para competitor, berjuang untuk mempertahankan team work yang solid, berjuang untuk mengembangkan diri, mengembangkan bawahan dan mengembangkan organisasi.

Leroy Eims mengatakan bahwa, ”seorang pemimpin harus menerima tanggung jawab, menegur dan mengoreksi, bertindak dengan tegas, mendengarkan Kritik, bersikap jujur dan adil.

Menurut Hasibuan (1994), pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya untuk mengarahkan bawahan dalam mengerjakan sebagian pekerjaannya untuk mencapai tujuan organisasi, sedangkan kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut Susilo Martoyo (1994), pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok. Sedangkan kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas dalam rangka mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang memang diinginkan bersama.

Kepemimpinan mengandung tiga determinan yaitu: Pertama, Adanya seorang pemimpin yang memiliki wibawa, posisi, kemampuan dan legitimasi. Kedua, Adanya bawahan/pengikut yang memiliki derajat berbeda dalam kemampuan, motivasi, harapan dan kebutuhan. Ketiga, Adanya situasi dan kondisi yang berbeda dari setiap tugas. Kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang memiliki kemampuan memadukan ketiga determinan diatas secara tepat guna, sehingga tujuan organisasi yang ditetapkan dapat tercapai.

Anton Sunarto mengatakan bahwa, “Tidak ada definisi secara tepat untuk pengertian kepemimpinan. Boleh dikatakan, definisi kepemimpinan sebanyak orang yang mendefinisikan. Karena setiap orang, berdasar pada pemahaman dan harapannya tentang kepemimpinan dapat mendefinisikan pengertian kepemimpinan itu sendiri.”

Robert Schuller melihat kepemimpinan sebagai kekuatan untuk menseleksi mimpi-mimpi, sesudah itu menetapkan tujuan-tujuan. Kepemimpinan adalah suatu kekuatan yang menggerakkan perjuangan atau kegiatan organisasi menuju sukses. Sedang Anton Sunarto merumuskan pemimpin adalah “orang yang menciptakan perubahan yang paling efektif dalam kinerja kelompoknya”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa inti dari pengertian pemimpin adalah peranan kunci, dominasi, serta pengaruh. Proses mempengaruhi kegiatan kelompok dalam perumusan dan mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah yang mampu menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan usaha dan iklim yang sehat dalam kehidupan organisasi, dan yang tercermin dalam kecekatannya mengambil keputusan

D. ASPEK-ASPEK YANG MENDUKUNG SUATU KEPEMIMPINAN

Warren W. Wiersbe & Howard F. Sugden mengatakan bahwa, “Tuhan telah memanfaatkan setiap corak struktur organisasi gereja yang ada, serta telah menyalurkan berkat-berkatnya melalui corak itu. Maksudnya Tuhan telah merestui baik sistim kongresional, sistim Presbiterial maupun sistim episkopal”.

Sistim organisasi gereja seharusnya menjadi berkat , dan bukan beban. Sistim organisasi gereja adalah berfungsi untuk melancarkan pelayanan dan bukan menghalanginya . Bagaimanapun corak organisasi gereja haruslah ada pemimpin, apapun nama yang diberikan, penatua atau penilik jemaat, diaken atau simas, yang dipilih oleh majelis jemaat harus ada pemimpin yang ditetapkan oleh Allah di dalam gereja. Jadi bukanlah corak organisasi yang menentukan baik buruknya sebuah gereja, tetapi gereja harus menghormati pemimpin-pemimpin rohani yang mengawasi mereka.

Yakob Tomalata menjelaskan bahwa; Dari ajaran dan tindakan Tuhan Yesus Kristus’ dapat ditemukan prinsip-prinsip kepemimpinan berdasarkan injil Matius 20 : 20-28 dan injil Markus 10 : 35 – 45 secara rinci Tuhan Yesus menjelaskan falsafah dasar kepemimpinan sebagai berikut:

1. Kepemimpina Kristen berpusat pada Allah. Oleh kedaulatanNya, Allah menetapkan dan memanggil setiap pemimpin kepada tugas dan tanggung jawab kepemimpinan ( Mat. 20 : 23 b, Mark. 10 : 40 )

2. Kepemimpinan Kristen dibangun di atas hubungan-hubungan sebagai landasan kerja dan keberhasilan pemimpin. Tuhan Yesus membangun kepemimpinanNya diatas hubungan-hubungan , dimana dengan terencana Ia memanggil para murid-Nya dan melibatkan mereka kedalam ”kehidupan kelompok” sehingga melalui wahana kelompok kecil tersebut mertfeka digebleng, diajar dan dilengkapi untuk menjadi pemimpin ( Mat. 20 : 20 -23, Mark. 10:35 -40, Luk 6:12 -16).

3. Kepemimpiknan Kristen diteguhkan diatas model kepemipianan ” pelayan hamba” yang merupakan landasan etika moral bagi kepemimpinan, serta pola dasar manajemen dan kepemimpinan. Model dasar kepemimpinan hamba ini memberikan tekanan kepada kerja yang berorientasi kepada keberhasilan (Mat. 20:24-28; Mark. 10:43-45; I Pet. 2:18 -25; Luk 17:10)

4. Kepemimpiknan Kristen berfokus kepada ” melayani” ( servis ) dengan memberikan yang terbaik. Fokus melayani ini menegaskan perlunya komitmen dan tindakan untuk mewujudkan yang terbaik dengan membayar harga, serta konsekuensi sehingga lebih banyak orang yang menikmati hasil kepemimpinan seorang pemimpin (Mat. 20:28; Mark. 10:45; Yoh. 2:15-19). Fokus melayani dari kepemimpinan Tuhan Yesus dibangun diatas tujuan dan sasaran yang jelas dan pasti, yaitu membawa ”kebaikan tertinggi” bagi orang banyak.

5. Kepemimpinan Kristen memiliki ”Kasih Kristus” (2 korintus 5:13-14; Yoh 4:7-10) sebagai dinamika kepemimpian yang mewarnai seluruh aspek kepemimpinan yang mencakup kinerja dan hasil dari setiap upaya pemimpin. Kasih Kristus sebagai dinamika kepemimpian Kristen ini mengubah dan membaharui hidup, serta meneguhkan paradigma sebagai dasar bagi perspektif positif yang membangun ( Mat. 20:24-27; Mark. 10:41-44). Dinamika kepemimpinan Kristen berdasarkan kasih Yesus Kristus diatas, sekaligus merupakan landasan yang memberikan kekuatan moral. Kekuatan moral inilah yang menyemangati kinerja kepemimpinan sehingga kepemimpinan Kristen memiliki jaminan akan adanya keberhasilan yang nyata tentang belas kasihan Yesus Kristus yang tidak pandang bulu.

Penelitian-penelitian yang bersumber pada pandangan gaya kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian mereka pada perbandingan antara gaya dekokratik dan gaya otokratik. gaya kepemimpinan ke dalam 4 macam: Direktif, konsultatif, partisipatif, dan gaya delegasi.

Karakteristik dari setiap gaya tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:

a. Gayan direktif: Pemimpin yang direktif pada umumnya membuat keputusa-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimimpin. Dan sedikit sekali kebebasan bagi bawahan untuk berkreasi. Pada dasarnya gaya direktif adalah gaya otoriter.

b. Gaya konsultatif: gaya ini dibangun di atas gaya direktif. Kurang otoriter dan banyak melakukan interaksi dengan para staf dan anggota organisasi/ bawahan. Fungsi pemimpin lebih bayak berkonsultasi, memberikan bimbingan, motivasi, memberi nasehat dalam rangka mencapai tujuan.

c. Gaya partisipatif: gaya ini bertolak dari gaya konsultatif yg bisa berkembang kea rah saling percaya antara bawahan dengan pemimpin. Pemimpin cenderung memberi kepercayaan pada kemampuan staf untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sebagai tanggungjawab mereka.

d. Gaya delegasi: disebut juga gaya Free-rein. Yaitu gaya yang mendorong kemampuan staf untuk ambil inisiatif.Kurang interaksi dan control yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila staf memperlihatkan tingkst kompetensi dan tanggungjawab yang tinggi.

Martha Widjaja Saputra mengungkapkan bahwa Tujuan yang baik dari kepemimpinan adalah menolong mereka yang melakukan sesuatu dengan buruk agar mejadi baik, dan menolong mereka yang melakukan sesuatu dengan baik agar menjadi lebih baik lagi. Cukup beraneka ragam definisi leadership dari para pakar Manajemen, akan tetapi yang terpenting bukan definisi itu sendiri, melainkan pelaksanaan dalam hal mengelola suatu team work menuju pencapaian tujuan yang diharapkan.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa, “Unsur yang mengendalikan Kepemimpinan kita adalah emotional, profesional, ambisi. Emotional sangat berguna jika kita tahu menempatkan dan menggunakannya, kapan, dimana, kepada siapa dan kenapa kita harus menempatkan/meredam emotional sedemikian rupa. Hal ini akan menjadi pengelolaan diri yang teramat penting, dimana kita harus melihat semua orang, karakter, jenis kesibukan, dan lainnya. Bukan melihat diri sendiri.

Seorang Pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain, dan melihat sebelum orang lain melihat, sehingga sangat profesional dalam setiap tindakanya. Ambisi yang terkedali akan melahirkan hal yang sangat positif. Permasalahannya adalah seringkali ambisi lebih dominan dan dikuasai oleh hal-hal yang berbau (selalu merasa benar), sehingga dapat melahirkan suatu kepemimpinan yang diktator.

2. KEPEMIMPINAN KRISTEN

a. Syarat-Syarat Menjadi Pemimpin Kristen

Syarat bagi pemimpinan gereja adalah: pertama; dia dipilih dan ditetapkan oleh Allah. Kedua; dia harus diurapi oleh Roh kudus. Dalam perjanjian lama dan perjanjian baru, Alkitab menggariskan bahwa pemimpin umat Tuhan adalah dipanggil dan ditetapkan oleh Allah. Seperti halnya Musa dan Yosua (Kel. 3: 0, Yosua. 1:1-3), Saul dan Daud (I Sam. 16:1 -13), Rasul-rasul ( Mark. 3 : 13-18), Penatua dan Penilik Jemaat ( Kis. 14 : 23, 20 : 28).

Alkitab menerapkan pemerintahan gereja bersifat teokrasi. Dalam sistim teokrasi, Allah yang berdaulat memilih, memanggil dan memperlengkapi orang-orang tertentu menjadi pemimpin dan memerintah bagi umatnya. Dalam kaitan itu Tuhan mmberikan otoritas kepada para pemimpin Gereja sesuai dengan kehendakNya untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan, serta mencapai tujuan-tujuan dalam kerangka rencananya. Pemipin Gereja adalah pengabdian memenuhi panggilan, karena itu pemimpin gereja bukanlah suatu profesi, tetapi panggilan pelayanan. Seorang pemimpin Gereja harus setia dalam Pelayanan. Tuhan Yesus berfekata ” siapa yang setia dalam perkara-perkara kecil kepadanya akan diberikan tanggung jawab yang besar ( Mat. 25:23 ). Tuhan menuntut hasil dari setiap pelayanan pemimpin Gereja, berbuah dalam pelayanan. Hal itu hanya bisa terjadi apabila kepemimpinan itu dilakukan dengan setia dalam menunaikan tugas panggilannya.

Seorang pemimpin Gereja harus menjadi teladan dan contoh. Artinya seorang pemimpin geraja harus menjadi contoh dan teladan dalam segala hal, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Rasul Paulus menasehati Timotius “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (I Tim. 4:12 ).

Seorang pemimpin Gereja harus berjalan di depan dan jemaat yang dipimpinya mengikuti dari belakang. Tuhan Yesus sebagai pemimpin Agung berjalan di depan untuk memberikan petunjuk kepada para murid-muridNya kepamampuan Dia pergi. Memegang komando, menentukan strategi. Dalam hal integritas yakni moral kejujuran, pengabdian dan kredibilitas; dapat dipercaya, teguh dalam prinsip. Mengatur mengarahkan dengan praktek. Sebagai pemimpin teladan harus menjadi panutan dan transpran kepada jemaat yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin Gereja harus memiliki standar moral dan krakter, yaitu hidup kudus. Kalau kita membaca kualifikasi seorang penatua atau penilik jemaat dalam I Timotius 3:1-7 bagian terbesar dari kualifikasi pemimpin rohani adalah moral dan karakter. Kemurnian, kesalehan dan kekudusan adalah prinsip dasar dari pada pemimpin rohani.

Seorang pemimpin gereja harus memiliki visi yang visioner. Tuhony Telaumbanua mengatakan bahwa “Pemimpimpin Gereja yang tidak memiliki visi yang visioner akan salah arah dan hanya berputar-putar di tempat. Selanjutnya Bonar L. Tobing menambahkan bahwa “Pemimpin yang tidak mempunyai visi yang jelas dalam pelayanannya tidak bisa maju dan juga tidak mundur.

Yakub Trihandoko menambahkan bahwa seorang pemimpin gereja harus mengajarkan jemaat yang dipimpinya menjadi murid kristus yang sejati. Artinya inti pengajaran melalui pemberitaan Firman Allah adalah injil yang menyelamatkan. Seiring dengan itu A. Munthe dalam bukunya Panggilan dan Tugas Penatua Gereja, mengatakan bahwa “ Gereja mati bila para pemimpin tidak mempunyuai visi. Pemimpinlah yang membuat pertumbuhan. Bila para pemimpin kerohanian baik dan setia berdoa, di situ mempunyai pertumbuhan yang baik. . Visi adalah suatu pandangan rohani yang jauh kedepan, untuk menjangkau hal-hal yang besar dalam ruang lingkup kehendak Allah dengan dasar keyakinan dan iman.

Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan dan rajin belajar serta memiliki kemampuan intelektual. Hal itu dijelaskan oleh P. Sitorus dalam khotbahnya pada pembukaan sidang sinode BKPN ke-3 tanggal 23 Oktober 2002 di Gereja BKPN Bawomataluo mengatakan bahwa “Seorang pemimpin harus memiliki 3 Q yaitu Iteligensi Question,Intelektual Question, Emosinal Question”.

Seorang pemimpin harus memiliki sifat kehambaan, pengabdian dan pengorbanan. Pemimpin rohani bukan bertindak sebagai bos atau majikan sebagaimana pada dunia sekuler, tetapi sebagai pelayan. Yesus berkata barang siapa yang besar diantara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu (Mat 23:11).

Seorang pemimpin harus bekerja keras, rajin dan berprestasi. Para pemimpin harus menjadi sosok yang rajin melayani, rajin mengajar firman Tuhan dan bekerja keras untuk memberitakan injil demi tercapainya pertumnbuhan gereja secara kualitas dan kuantitas.

Seorang pemimpin harus menjadi komunikator, mampu berkomunikasi. Komunikasi bukan sekedar kemampuan berbicara, tetapi kesanggupan untuk melakukan kontak melalui beraneka ragam cara dalam kehidupan bermasyarakat, maupun kelompok dalam mengembangkan relasi. Seorang pemimpin harus mampu berkomunikasi dengan jemaat, dengan lingkungan dan dengan pemerintah.

Seorang pemimpin mesti siap menghadapi tantangan dan mengadapi konflit, baik internal maupun eksternal dan mampu memberikan solusi. Memiliki kemampuan memanfaatkan peluang-peluang yang ada berdasarkan hikmat dari Tuhan serta pimpinan Roh kudus. Tantangan harus dihadapi baik menyangkut tekanan ekonomi, soial budaya, politik dan lain sebaginya harus mampu diselesaikan dalam penyertaan Tuhan Yesus Kristus.

Seorang pemimpin harus memiliki semangat. Tidak cepat putus asa, konsisten dengan semangat tinggi. “semangat yang patah mengeringkan tulang “(Ams. 7:22 ), dan siapakah yang memulihkan semangat yang patah (Ams. 18 : 14 ), dan Tuhan sanggup memulihkan semangat ( Yes. 57:15).

Mary Go Setiawani mengatakan bahwa “Pemimpim Gereja harus memimpin sebagaimana Tuhan Yesus memimpin. Karena itu beliau menganjurkan kepada para pemimpin dan pengajar dalam gereja adalah: Jadilah pemimpin yang memiliki intergritas, berilah teladan yang baik dan benar, Jadilah pemimpin yang melayani, selalu bertindak konsisten, displin dalam iman, jangan abaikan teguran, bertanggung jawab dan bekerja sama.

I Gusti Bagus Rai Utama menguraikan “tujuh prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus“ yaitu:

a. Identifikasi. Identitas dan latar belakangnya harus di ekspos, tidak perlu disembunyikan.

b. Misi. Apa yang Ia sampaikan dengan apa yang Ia lakukan adalah sudah dituliskan dalam Alkitab dan dilakukan juga sesuai dengan apa yang ada didalam Alkitab.Ketiga;

c. MotiVasi. Motifasi kepemimpinan adalah memuliakan Allah. Yesus terlebih dahulu menguduskan dirinya karena Ia mau agar para pengikutnya turut menguduskan diri. Yesus tidak pernah menghakimi dengan semena-mena dan salah, tetapi Ia menghakimi dengan bijaksana dan benar agar cara inipun akan ditiru oleh pengikutnya.

d. Partisipasi. Yesus telah memberikan teladan yang baik kepada kita, dengan belaskasihan Dia rela memberikan diriNya mati di salib untuk menanggung penderitaan manusia berdosa.

e. Kosentrasi. Yesus mengajarkan agar kita tetap kosentrasi hanya satu nama Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak ada nama lain kepada kita ( Luk 9:49 -51, 62, 77).

f. Meditasi. Tuhan sudah memberikan waktu kepada kita selama 24 jam sehari, dalam satu minggu ada 7 hari. Tubuh dan pikiran kita juga perlu penyegaran dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

g. Rekreasi. Menurut teori leisure yang telah berkembang di eropa, ternyata rekreasi memberikan dampak yang positip terhadap perilaku kerja sehingga pekerjaan yang dilakukan lebih efektif dan efisien. Untuk mengetahi sebuah lembaga atau perusaan sehat atau tidak, cukup dengan melihat perilaku pemimpinnya. Tenang menghadapi segala sesuatu dalam segala persoalan, tidak kuatir dan berkeyakinan.

Dari urain diatas dapat disipulkan bahwa kepemimpinan Tuhan Yesus adalah kepemimpinan yang sangat simpel sehingga setiap orang yang ingin meneladaninya mampu untuk melakukannya. Identifikasi diri adalah symbol kejujuran, misi adalah symbol kesanggupan mengambil pekerjaan. Motivasi adalah symbol memberi teladan yang baik, partisipasi adalah symbol kebersamaan, Kosentrasi adalah symbol memegang prinsip awal, Meditasi adalah symbol perenugan, dan rekreasi adalah symbol penghargaan waktu dan keluaga serta relasi.

Tuhan Yesus sebagai pemimpin yang pokok dalam gereja telah memberikan pengertian yang menggugah pengertian yang dianut selama ini. Yesus telah memerikan teladan kepemimpinan yang sejati selama kurang lebih 3 setengah tahun masa pelayanannya. Pengertian kepemimpinan yang sangat luar bisa yang kita dengarkan dari arti kepemimpinan adalah “ Barang siapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu (Mat. 13:11).

Kepemimpinan menurut Tuhan Yesus adalah “Penghambaan” (Leadership is Servanthood). Pada perjamuan akhir, Tuhan Yesus mempraktekkan bentuk penghambaan seorang pemimpin dengan cara membasuh kaki para rasuNya. “Lalu bangunlah Yesus dan menaggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatnya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggaNya itu. ”(Yoh. 13:4-5). Dalam tradisi Yudaism, orang yang membasuh kaki adalah hamba sahaja. Tradisi membasuh kaki ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang mulia. Membasuh kaki hanya dilakukan oleh para hamba kepada tuannya. Itulah makanya petrus keberatan ketika Yesus hendak membasuh kakinya ( Yoh. 13: 8).

Pemimpin rohani sesungguhnya berbeda dengan pemimpin sekuler dalam dunia ini. Berbeda dalam falsafahnya, motifnya, tujuannya, metodenya, dan pelaksanaannya secara praktis. Sebab itu Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu.” (Markus 10:42b-43a). Dengan kata lain, Yesus menegaskan bahwa setiap orang percaya kepadaNya, disebut dengan murid-muridNya, sesungguhnya dipanggil untuk menjadi pemimpin. Pemimpin rohani berbeda dengan orang dunia ini. Pemimpin rohani harus mengikuti aturan main dari Sang Tuan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kepemimpinan sekuler bertolak belakang dengan kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan Kristen adalah seorang pelayan bagi sesamanya. Kalau pemimpin sekuler berusaha untuk menjaga posisinya sebagai boss dimata bawahannya, pemimpin kristiani mengulurkan tangannya dan memberi diri menjadi pelayan bagi sesamanya.

J.M. Sinaga mengatakan bahwa “seorang pemimpin krisitiani harus menambah nilai bagi orang disekitarnya dan tidak memanfaatkan mereka untuk mempertahankan posisinya.” Model kepemimpinan melayani adalah model yang absah dan Alkitabiah, baik dalam perjanjian Lama maupun dalam perjanjian Baru. Mereka yang diangkat menjadi pemimpin ditengah-tengah umat Allah selalu diangkat untuk melayani, baik sebagai imam, raja atau bahkan nabi. Ketika Salomo diangkat menjadi raja, hal yang paling menyenangkan hati Tuhan adalah ketika dia memohon hati yang paham untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat ( I Raja-Raja 3 : 9 ). Disini jelas, permintaan ini bukan untuk kepentingan peribadinya, tetapi untuk pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Demikian juga Harun saat Ia ditahbiskan menjadi imam, dipundak kiri dan kanannya memikul masing-masing enam nama dari dua belas suku Israel yang ditulis pada batu permata dan pada tutup dadanya ada dua belas permata yang juga melambangkan suku-suku israel. Hal ini dilakukan sebagai perlambang tanggung jawab harun untuk senantiasa berdoa tak henti-hentinya bagi suku-suku yang dipimpinnya (Kel.28 :12, 29). Demikian juga dengan para nabi, mereka dipanggil untuk memimpin dan melayani umat. Tuhan Yesus memacu pada model yang sama. Ia mengajar murid-muridNya kepemimpinan yang harus mereka miliki. Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, ia hendaknya menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya (Mark. 9:30 – 37).Yesus mengajar mereka bahwa yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi hamba.

David Yonggi cho menambahkan bahwa “jika ambisi seorang pemimpin bertujuan hanya untuk mendapatkan posisi, maka hal itu suatu kepemimpinan yang tidak terhormat. Tetapi didalam kepemimpinan hamba, para pemimpin harus mempunyai pikiran untuk melayani terlebih dahulu, dari pada mendapatkan posisi kepemimpinan. Jika kita mengingikan kepemimpinan dengan tujuan untuk melayani orang lain, maka itu akan menjadi hal yang terhormat”.

b. Fungsi Pemimpin Kristen

Apakah kepemimpinan Kristen itu? Kepemimpinan Kristen ialah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Itu merupakan kepemimpinan yang telah diserahkan kepada kekuasaan Kristus dan teladan-Nya. Para pemimpin Kristen yang terbaik memperlihatkan sifat-sifat yang penuh dengan dedikasi tanpa pamrih, keberanian, ketegasan, belas kasihan, dan kepandaian persuasif yang menjadi ciri pemimpin agung.

Munthe menambahkan bahwa, Fungsi kepemimpinan Keristen pertma-tama adalah untuk bersama-sama dengan Yesus. ”To be with him” adalah terjemahan dari Yunaninya ” hina osin metautou.” Bersama-sama dengan Yesus adalah fungsi pertma dari orang – orang yang dipanggil Yesus. Baru sesudah itu Yesus memberikan mereka yang terpanggil itu tugas untuk memberitakan Injil. Tugas memberitakan injil juga harus dilaksanakan bersama-sama dengan Yesus. Demikian halnya dengan semua pimpinan Gereja dimanapun berada. Apakah di kantor pusat gereja ( sinode ) , di jemaat atau di Departemen, diakonia sosial maupun di lembaga pemerintahan. Ciri khas utama adalah bersama-sama dengan Yesus. Setiap pemimpin Gereja melaksanakana tugasnya bersama-sama Yesus dan tidak pernah tanpa Yesus.

Yesus berkata bahwa kita tidak dapat melakukan sesuatu tanpa Dia (Yoh 15:5). Karena kebersamaan pemimpin Gereja dengan Yesus kita melihat apa yang dimaksud dengan ucapan Yesus dalam Matius 10: 40, 42. ”Barang siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku… Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir sajapun kepada kepada salah seorang yang kecil ini karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak kehilangan upahnya”. Yesus dan para pengikutnya dalam hal ini para pemimpin Gereja tidak dapat dipisahkan. Di dalam peribadi dan tugas pemimpin gereja terdapat kehadiran Yesus sebagai dewan kerajaan Allah di bumi.Yesus bukan hanya saja menugaskan para pemimpin Gereja, tetapi Ia juga menyertai mereka dalam melaksanakan tugas kepemimpinan itu. Rasul Petrus menerangkan secara terperinci tentang tugas –tugas seorang pemimpin Gereja termasuk tanggung jawabnya antara lain: Mengembalakan domba Allah. Pemimpin Gereja adalah Gembala terhadap jemaat Allah yang dipercayakan kepadanya. Karena itu jangan mengutamakan pekerjaan lain sehingga tugas utama sebagai pemimpin ketinggalan.

A.Munthe menambahkan bahwa hendaknya para pemimpin Gereja telebih dahulu mengurus apa yang telah dipercayakan kepadanya, karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan kepada yang memberi tugas. Jangan kita biarkan kawanan Domba Allah yang kita gembalakan tercerai berai karena kehilangan gembalanya. Mari kita memberi makanan rohani yang secukupnya kepada kawanan domba kita agar mereka tidak merasa senang berada di luar untuk menerima bekalnya. Dalam hal ini kita ditantang untuk mempersiapkan dan pengajaran agama serta penggembalaan yang mantap.

Paulus Daun mengatakan bahwa ”Gembala sidang yang kurang dikenal anggotanya pasti mudah terpengaruh oleh orang lain. Baiklah setiap Gembala mengembalakan jemaatnya dengan simpatik. Dengan demikian, maka pemimpin itu dapat bertindak selaku gembala dan gembala itu adalah juga pemimpin bagi jemaat. Pemimpin yang bertindak selaku gembala tidak akan terlebih dahulu menerapkan peraturan terhadap jemaatnya , melainkan selalu mendahulukan unsur pengembalaannya. Dari ajaran dan tindakan Tuhan Yesus Kristus, dapat ditemukan konsep-konsep yang mengandung prinsip-prinsip dasar kepemimpinan yang cemerlang. Prinsip-prinsip dasar tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut. Dari Injil Matius 20:20-28 dan Injil Markus 10:35-45, Tuhan Yesus menjelaskan prinsip/falsafah dasar kepemimpinan yang dapat diuraikan sebagai berikut.

Kepemimpinan Kristen berpusat pada Allah. Oleh kedaulatan-Nya, Allah menetapkan dan memanggil setiap pemimpin kepada tugas dan tanggung jawab kepemimpinan (Matius 20:23b, Markus 10:40; band. Roma 12:6-8; Roma 8:29-30). Kepemimpinan Kristen dibangun di atas hubungan-hubungan sebagai landasan kerja dan keberhasilan kepemimpinan. Tuhan Yesus secara sengaja membangun kepemimpinan-Nya di atas hubungan-hubungan, di mana dengan terencana Ia memanggil para murid-Nya dan melibatkan mereka ke dalam ”kehidupan kelompok” sehingga melalui wahana kelompok kecil tersebut mereka digembleng, diajar, dan dilengkapi untuk menjadi pemimpin (Matius 20:20-23; Markus 10:35-40; band. Matius 10: 1-15; Markus 3:13-19; Lukas 6:12-16). Kepemimpinan Kristen diteguhkan di atas model kepemimpinan ”pelayan hamba” yang merupakan landasan etika-moral bagi kepemimpinan, serta pola dasar manajemen dalam kepemimpinan. Sebagai model dasar kepemimpinan, para pemimpin Kristen perlu membangun sikap etis-moral sebagai “pelayan yang melayani” dan “hamba yang mengabdi” yang merupakan landasan bagi etos kerja. Sebagai pola dasar manajemen, model kepemimpinan pelayan-hamba ini memberikan tekanan kepada kerja yang berorientasi kepada keberhasilan (Matius 20:24-28; Markus 10:42-45; band. Ibrani 13:7,17; Kolose 3:23; 1Petrus 2:18-25; Lukas 17:10). Kepemimpinan Kristen berfokus kepada ”melayani” (service) dengan memberikan yang terbaik. Fokus melayani ini menegaskan perlunya komitmen dan tindakan untuk mewujudkan yang terbaik dengan membayar harga, serta konsekuensinya sehingga lebih banyak orang yang akan menikmati hasil/dampak kepemimpinan seorang pemimpin (Matius 20:28; Markus 10:45; Yohanes 21:15-19; Ibrani 13:17-21; 1Petrus 3:13-23; Lukas 17:10). Fokus melayani dari kepemimpinan TUHAN Yesus ini dibangun di atas tujuan dan sasaran yang jelas dan pasti, yaitu membawa “kebaikan tertinggi” bagi umat manusia, dalam hal ini “orang banyak”. Kepemimpinan Kristen memiliki “kasih Kristus” (2Korintus 5:13-14; 1Korintus 13; 1Yohanes 4:7-10) sebagai dinamika kepemimpinan yang mewarnai seluruh aspek kepemimpinan yang mencakup kinerja dan hasil/produk dari setiap upaya memimpin. “Kasih Kristus” sebagai dinamika kepemimpinan Kristen memberi sifat reformatif dan transformatif bagi kepemimpinan Kristen. Dinamika kepemimpinan Kristen ini mengubah dan memperbaharui hidup, serta meneguhkan paradigma sebagai dasar bagi perspektif positif yang membangun (Matius 20:24-27; Markus 10:41-44).

Dinamika kepemimpinan berlandaskan kasih Yesus Kristus di atas, sekaligus merupakan landasan yang memberikan kekuatan moral. Kekuatan moral inilah yang menyemangati kinerja kepemimpinan sehingga kepemimpinan Kristen memiliki jaminan akan adanya keberhasilan yang nyata (band. Matius 9:35-38) tentang belas kasih Yesus Kristus yang tidak pandang bulu). Ada banyak ajaran Tuhan Yesus yang berhubungan langsung dengan kepemimpinan yang tidak dapat diuraikan dalam tulisan ini. Paling tidak, Tuhan Yesus dengan pasti memproklamirkan diri-Nya sebagai Mesias (Yang diurapi) dan ”Misionary” (Yang diutus) sebagai Pembebas Sejati (Lukas 4:18-19), di mana Ia pun merujuk kepada diri-Nya sebagai “Pemimpin Mesias” (Matius 23:18) yang memberi indikasi kuat akan peran-Nya sebagai ”Pemimpin” (band. Ibrani 13:8,20-21). Sebagai pemimpin, Tuhan Yesus membuktikan bahwa diri-Nya adalah “Pemimpin lengkap” dengan karakter yang tangguh, pengetahuan yang komprehensif, dan khas lebih, serta kecakapan sosial dan teknis yang sangat andal dalam kepemimpinan-Nya (band. Lukas 4:32; Matius 7:28-29; Markus 1:22) yang berisi pengakuan atas keandalan Tuhan Yesus sebagai pemimpin). Pembuktian keandalan-Nya sebagai pemimpin diwujudkan dengan memanggil, melatih/mengembangkan, dan mengutus para pemimpin ke dalam pelayanan (Matius 10:1-4, Matius 5-15; Markus 3:13-19; Lukas 6:12-16, dst.). Keunggulan kepemimpinan Tuhan Yesus ini terbukti dengan adanya pemimpin baru yang muncul dan memimpin secara unggul dalam meneruskan kepemimpinan-Nya (band. Petrus yang bangkit dan meneruskan kepemimpinan TUHAN Yesus Kristus — Lukas 22:32; 1Petrus 5:1-5).

Dalam Alkitab versi King James, kata “pemimpin” muncul hanya enam kali, yaitu tiga kali dalam bentuk tunggal dan tiga kali dalam bentuk plural. Namun tidak berarti konsep kepemimpinan atau figur pemimpin tidak penting dalam Alkitab. Yang sangat menarik, konsep pemimpin dalam Alkitab muncul dengan terminologi yang berbeda-beda. Yang paling sering dipakai adalah “pelayan” atau “hamba”. Allah tidak menyebut, “Musa, pemimpin-Ku” tetapi “Musa, hamba-Ku” Alkitab memakai kata Yunani ‘doulos’ dan ‘diakonos’ yang diterjemahkan sebagai hamba. Meskipun kedua kata tersebut sulit dibedakan dalam penggunaannya, David Bennett dalam bukunya “Leadership Images from the New Testament” menulis bahwa ‘doulos’ mengacu kepada seseorang yang berada di bawah otoritas orang lain, sedangkan ‘diakonos’ lebih menekankan kerendahan hati untuk melayani orang lain. Kata Yunani ketiga yang sering dipakai Alkitab untuk hamba adalah ‘huperetes’, yang menunjuk secara literal kepada orang-orang yang mendayung di level bagian bawah dari kapal perang Yunani kuno yang memiliki tiga tingkat. Thayer’s Hebrew Dictionary mengartikannya sebagai ‘bawahan’ (underlings, sub-ordinate).

Setelah mempelajari tiga terminologi di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa konsep pemimpin di dalam Alkitab adalah hamba. Lebih konkret lagi, hamba yang dengan rela hati mengambil tempat yang terendah, dan bertahan dalam berbagai kesulitan dan penderitaan karena pelayanannya terhadap orang lain. Jadi pemimpin Kristen adalah seorang pemimpin-pelayan. Namun pemimpin-pelayan sering kali dianggap sebagai sebuah kontradiksi dalam terminologi (oxymoron). Bagaimana mungkin kita dapat menjadi pemimpin dan pelayan pada saat bersamaan. Untuk mengerti kedalaman dan menghargai keindahan konsep pemimpin- pelayan, kita perlu melihat minimal dua acuan firman Tuhan berikut ini. Pertama, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Markus 9:30-37). Dalam konteks Markus 9 di atas, murid-murid Yesus meributkan tentang siapa yang terhebat di antara mereka. Dan mereka meributkan itu persis setelah Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya bahwa Ia hendak menuju ke jalan salib. Sungguh ironis! Persis menggambarkan kita manusia yang berambisi terhadap kuasa, dan berani menyebut diri pemimpin Kristen. Ketika Yesus mengkonfrontasi mereka, kita bayangkan betapa malu mereka. Yesus lalu mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Bagi yang ingin di depan haruslah menjadi yang paling belakang. Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba. Untuk menjelaskan ini, Ia lalu merangkul seorang anak kecil sebagai model. Seorang anak kecil tidak memiliki pengaruh sama sekali, tidak memiliki kuasa. Namun Yesus berkata, siapa yang menyambut sesamanya yang tidak berarti, ia menyambut Tuhan.

Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan. Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang, termasuk para murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yohanes 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa- Nya untuk kepentingan pribadi. Ia menganggap kuasa-Nya sebagai sesuatu yang dipakai untuk melayani orang lain. Kedua, “Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:43,44). Belum lama kejadian di Markus pasal 9 berlalu, murid-murid Yesus kembali menanyakan kemungkinan mereka memperoleh posisi saat suksesi kepemimpinan terjadi. Dan ini terjadi setelah Yesus memberitahukan tentang penderitaan jalan salib yang akan Ia lalui untuk ketiga kalinya. Untuk kesekian kalinya, Yesus menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah pelayanan. Kata “ingin” dan “hendaklah” dalam ayat 43 dan 44 di atas berasal dari kata “want” dan “must” dalam bahasa Inggris. Jadi yang lebih tepat adalah “ingin” dan “harus”. Yesus mengajukan syarat yang konkret. Ingin menjadi besar, harus menjadi pelayan. Ingin menjadi terkemuka, harus menjadi hamba. Kita cenderung ingin jadi besar namun tidak mau menjadi pelayan bagi sesama. Kita memilih untuk menjadi yang terkemuka, namun tidak pernah rela menjadi hamba bagi orang lain. Yesus lalu berkata tentang diri-Nya: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (10:45). Inilah yang disebut Oswald Sanders sebagai “The Master’s Master Principle”. Prinsip ini tidak dimengerti oleh Yohanes dan Yakobus yang menginginkan mahkota namun menghindari salib, yang mengejar kemuliaan tapi menjauhkan penderitaan, yang berambisi menjadi tuan dan menolak disebut hamba. Jikalau kita merenungkan ajaran Yesus di atas, ada beberapa kristalisasi pemikiran yang mengemukakan : Memimpin adalah melayani, namun melayani belum tentu memimpin.Yang tidak mau melayani,tidak boleh dan tidak berhak memimpin. Pemimpin adalah pelayan,namun pelayan belum tentu pemimpin.Yang tidak rela menjadi pelayan,tidak layak menjadi pemimpin

c. Tujuan Kepemimpinan Kristen

Dunia masa kini ditandai oleh kelangkaan pemimpin gereja yang berkualitas. Kita dihadapkan kepada problema-problema yang berat. Banyak orang yang memperingatkan akan bahaya yang bakal menimpa dunia, terutama umat Kristen, tetapi hanya sedikit orang yang menawarkan cara-cara penangkalannya. Ketrampilan dan pengetahuan kita berlebihan, tetapi kurang dalam hikmat dan kearifan. Dengan meminjam metafora Tuhan Yesus, kita ini bagaikan “kawanan domba tanpa gembala” sementara para pemimpin seringkali tampil seperti “si buta yang memimpin orang buta”.

Umat Tuhan sedang mengalami kekurangan pemimpin yang berkualitas gembala seperti yang ada pada diri Kristus. Dan kurangnya kepemimpinan diantara orang-orang Kristen adalah krisis yang paling gawat dari semua. Pengaruh kesalehan masyarakat Kristenlah yang menahan lajunya kuasa kejahatan di kota-kota dan bangsa-bangsa. Kurangnya para pemimpin Kristen yang rohani, efektif dan kuat sangat melemahkan kesanggupan kita untuk bertahan melawan kekuatan si jahat.

Ada yang mengatakan pemimpin itu dilahirkan, namun ada juga yang menolaknya. Pemimpin ada yang dilahirkan dengan bakat luar biasa, tetapi pemimpin yang efektif adalah orang yang bersedia digembleng dan dilatih Tuhan melalui berbagai proses kehidupan maupun pembelajaran. Shakespeare pernah mengatakan, “Ada yang besar karena dilahirkan besar, ada yang besar karena usaha sendiri, tapi ada juga yang besar karena dipaksa oleh keadaan”. Dan berkaitan dengan kepemimpinan Kristiani, dapat ditambahkan “suatu perpaduan antara kualitas alami dan kualitas spiritual,” atau dengan kata lain kepemimpinan Kristen adalah perpaduan antara bakat alami dan pemberian spiritual. Tidak cukup sampai disitu, kepemimpinan yang potensial harus dipupuk dan dikembangkan.

Yesus menunjukkan teladan kepemimpinan dengan jalan menjadi panutan, memberikan teladan kehidupan ketimbang memberikan perintah dan aturan-aturan yang memaksa. Ia senantiasa menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas. Tidak ada kesalahan maupun kejahatan di dalam hidup-Nya. Hidup-Nya transparan, semua orang dapat menilai dan menganalisa diri-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Yesus juga bukan hanya sekedar melalui kata-kata, namun juga disertai dengan hikmat dan wibawa ilahi. Hal inilah yang harus diperhatikan setiap orang yang ingin meniru teladan kepemimpinan Yesus. Menjadi seorang pemimpin, baik dalam kehidupan diri sendiri, keluarga, masyarakat, gereja dan lingkungan lainnya dimana kita berada, harus memiliki kuasa, hikmat dan penyertaan Tuhan. Dengan demikian maka akan dapat mencapai kesuksesan didalam memimpin. Salah satu peranan utama dari seorang pemimpin adalah menunjukkan teladan yang baik dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya. Paulus adalah seorang pemimpin besar dari gereja Tuhan di abad pertama. Dalam kitab 1 Korintus 11:1 “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Ia berhasil memultiplikasikan kepemimpinannya dengan mencetak pemimpin-pemimpin baru yang handal. Ia berhasil mendidik Timotius menjadi pemimpin dan gembala yang handal. Timotius pun kemudian menghasilkan pemimpin-pemimpin baru di dalam gereja yang digembalakannya. “Myron Rush mengatakan bahwa, “Pertumbuhan dan perluasan kekeristenan terjadi sesuai dengan tersedianya para pemimpin yang berhasil guna.” Kepemimpinan Kristen adalah “Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan kristen yang menyangkut faktor waktu, tempat dan situasi khusus yang di dalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin dengan kapasitas penuh untuk memimpin umat-Nya dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi guna mencapai tujuan Allah yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umat-Nya, untuk Kerajaan-Nya”

Memimpin dapat berarti memerintah, tetapi memimpin tidak identik dengan memerintah. Memimpin lebih luas daripada memerintah. Memerintah hanya mempunyai satu garis tegas, garis komando: harus dilaksanakan! Ada unsur pemaksaan. Sedangkan memimpin ada unsur kebersamaan. Memimpin tidak bersifat tunggal, melainkan tim kerja, ada kawan sekerja yang mendampingi. Yesus memberi dasar yang jelas tentang kepemimpinan Kristen. (Mark.10:42-44 dan Luk. 22:25-26) Kepemimpinan adalah pelayanan. Pelayan adalah hamba, budak. Konotasinya rendah, tetapi kata itulah yang digunakan Yesus untuk menggambarkan tugasnya. Menjadi pemimpin merupakan suatu kehormatan, sebab Allah berkenan menjadikan kita sebagai “kawan sekerja Allah” (I Kor. 3:9) Tetapi serentak dengan kesadaran akan istimewanya itu, harus juga disadari akan ucapan Yesus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat.16:24).

Pola pelayanan seperti inilah yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil” (Yoh. 3:30). Karena itu dalam Alkitab, pertumbuhan dan perkembangan seorang pemimpin gereja tidak ditandai oleh bagaimana pemimpin itu makin “hebat” dan semakin “penting”, melainkan ditandai oleh bagaimana pemimpin itu semakin menyangkal dirinya sendiri dan membiarkan dirinya dipimpin oleh Tuhan. Yoh. 21:18 )

Menyangkal diri berarti menyatakan TIDAK terhadap selera dan ambisi pribadi, melainkan YA terhadap selera dan kehendak Yesus (band. Gal. 2:20) Memikul salib berarti harus siap menghadapi segala konsekwensi dari pelayanan karena Nama Yesus, yaitu menderita. Sekali lagi: menderita karena Yesus, bukan karena kesalahan atau kebodohan diri sendiri. Mengikut Yesus, berarti hanya memandang kepada Yesus sebagai satu-satunya tokoh yang harus diikuti, ditaati dan dicontoh. Menjadi pengikut Yesus berarti bukan menjadi pengikut manusia. Tugas Pendeta/Guru Injil/Majelis sebagai pemimpin bukanlah menjadikan orang lain sebagai pengikutnya, melainkan pengikut Kristus!

Yesus berkata, “Aku datang , bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa” (Mat. 20:28) “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Guru-mu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:14-15) Kita sering melupakan keteladanan ini. Kalaupun ingat, sering hanya terbatas pada pemahaman saja dan tidak sampai pada tindakan.

Kita lebih senang dengan keteladanan Yesus sebagai Raja, sebagai Penguasa; mampu mengadakan mujizat, menyembuhkan yang sakit, mengajar dan memerintah. Kita senang meniru keteladanan ini, sebab sebagai raja atau anak raja, penguasa, sangat dihormati dan dihargai. Kita senang dihormat. Kita mendambakan penghargaan orang dan rindu untuk mempunyai kuasa seperti Yesus. Keteladanan Yesus sebagai Hamba yang menderita sering kita abaikan. Kita lebih suka mengikuti keteladanan yang hebat, yang spektakuler, yang megah.

Orientasi pelayanan Yesus kepada orang miskin, yang lemah, yang tertindas kita ganti dengan orientasi pelayanan kita kepada yang berkuasa, yang kaya, yang kuat dan yang berkedudukan. Tentu saja tidak berarti yang kaya, yang kuat dan yang berkedudukan tinggi, tidak boleh dilayani. Semua harus dilayani. Hanya yang perlu diperhatikan adalah motivasinya. Berpihak kepada penguasa, pejabat, yang hebat itu lebih aman bagi diri dan posisi. Mengamankan posisi dan diri demi “hidup tidak menderita” bukanlah keteladanan yang Yesus berikan. Bukankah Yesus telah mengosongkan diri-Nya, meninggalkan posisi-Nya, rela menderita, bahkan mati disalib, demi manusia yang berdosa (Fil. 2:5-8). Inilah keteladanan pelayanan yang harus ada pada diri setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pelayan atau hamba Tuhan, atau yang mengaku “sedang melayani Tuhan”. Banyak orang yang mau “melayani” tetapi sedikit yang mau menjadi pelayan. Yesus tidak mengajarkan melayani sebagai penguasa, melainkan sebagai hamba. Karena itu benarkah seseorang itu terpanggil untuk melayani atau hanya ingin menyatakan ambisi pribadinya. Pelayanan sebagai pelayan adalah panggilan Allah.

Perhatikan panggilan para Nabi di Perjanjian Lama dan para Rasul di Perjanjian Baru. Mereka semua menjadi pemimpin bukanlah karena mereka berambisi menjadi pemimpin, melainkan karena Allah memanggil mereka untuk memimpin dengan cara melayani, berkorban dan hanya mementingkan kepentingan orang lain!

Seorang pemimpin hendaknya mempunyai tim kerja dimana anggotanya mempunyai kemampuan yang sesuai dengan tugas pelayanan. Mereka merupakan suatu tim yang saling menopang dan membantu sehingga tidak ada yang “lebih hebat dan lebih penting”. Saling menopang dan membantu dalam melayani bukan dalam hal memperkokoh posisi suatu jabatan!

Kepemimpinan Kristen ialah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Itu merupakan kepemimpinan yang telah diserahkan kepada kekuasaan Kristus dan teladan-Nya. Para pemimpin Kristen yang terbaik memperlihatkan sifat-sifat yang penuh dengan dedikasi, tanpa pamri.

Dalam konsep kepemimpinan Kristiani, ada beberapa faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Faktor-faktor itu adalah: pertama adalah . Visi (sense of mission) kedua adalah. Pengetahuan & Usaha (knowledge-skill) Ketiga adalah. Ketekunan & Tanggung Jawab (sense of responsibility) Keempat adalah. Karakter (Christlike character)

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat,” demikianlah dikatakan dalam Amsal 29:18. Visi adalah tujuan, sasaran, goal, arah, wahyu, mimpi yang hendak dicapai. Menurut John Stott, visi adalah suatu ihwal melihat, suatu ihwal mendapatkan presepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadu pandangan yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan. Secara lebih tegas Stott mendefenisikan visi sebagai ketidak pusasan yang mendalam bagaimana masa kini selaku suatu fakta, dibarengi dengan pandangan yang amat tajam tentang bagaimana yang selayaknya yang lebih mendasar, lebih baik, dan lebih diperkenankan Tuhan. Selanjut-nya George Barna menjelaskan, bahwa visi itu haruslah: (1) jelas; (2) menjanjikan kasih yang lebih baik dari sekarang; (3) berpusat kemasa depan; (4) berasal dari Allah; (5) karunia bagi para pemimpin yang disesuaikan dengan situasi yang mereka hadapi;(6)menunjukkan pandangan yang realistis; (7) pemimpin yang paling mungkin terjad; (8) dibangun atas dasar kenyataan.

Musa merupakan salah satu pemimpin besar yang mengerti benar mengenai visi. Ia berjuang keras memimpin bangsanya melawan penindasan Mesir, mengarungi padang gurun selama puluhan tahun, karena ia mendapat visi yang jelas tentang “Tanah Perjanjian”. Visi harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dan usaha. Tidak cukup bagi Musa untuk memimpikan suatu negeri yang berlimpah-limpah madu dan susunya. Ia berusaha mewujudkannya. Ia menghimpun, menyatukan dan mengatur orang Israel menjadi suatu bangsa. Ia menggunakan pengetahuan yang didapatnya selama pendidikan di Mesir dan pengalaman bersama Tuhan untuk memimpin mereka melintasi gurun yang penuh bahaya dan kesukaran sebelum akhirnya mencapai tanah Kanaan. Ketekunan merupakan salah satu kualitas kepemimpinan yang paling utama. Musa lagi-lagi merupakan teladan ketekunan yang penuh ketabahan. Berkali-kali dalam hidupnya bangsa Israel “menggerutu” terhadap kepemimpinannya dan menentang wibawanya. Akan tetapi Musa tidak menyerah. Ia tidak lupa akan panggilan Allah kepadanya untuk memimpin bangsa itu. Ia bertanggung jawab melakukan perintah Tuhan untuk membawa bangsa itu keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan. Kepemimpinan Kristen merupakan kepemimpinan yang berpusatkan Kristus. Tidak ada seorang manusiapun di muka bumi ini yang akan mampu menjadi pemimpin Kristen yang handal bila ia tidak lebih dulu berjumpa secara pribadi dengan Yesus dan menjadi ciptaan baru (II Korintus 5:17). Ketika seorang menghendaki untuk menjadi pemimpin yang efektif, ia harus bertumbuh secara karakter. Pemimpin Kristen menerima kehidupan Kristus dengan iman dan menerapkannya dalam komitmen, disiplin dan perilaku/perbuatan, dimana kehidupannya setiap waktu mengungkapkan Kristus yang hidup di dalamnya sebagai kesaksian kepada dunia.” Tujuan utama pengembangan karakter adalah “kualitas hidup”. Yaitu kualitas hidup rohani yang berpusatkan Kristus. Kualitas hidup ini dipengaruhi oleh pekerjaan Roh Kudus dalam semua aspek dan peristiwa. Buah Roh akan makin terpancar dalam kehidupan sementara buah daging makin terkikis. Salah satu karakter pemimpin Kristen yang diinginkan Yesus terlihat dalam firman-Nya, “Kamu tahu bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…(Markus 10:42-45). Panggilan kita adalah untuk melayani bukan untuk dilayani dan menguasai. Pemimpin harus melayani dan memperhatikan kebutuhan bawahannya. Memberi kesejahteraan pada mereka, sehingga bawahan akan bersemangat menopang pemimpinnya. Seperti Yesus yang mencukupi kesejahteraan murid-murid-Nya dengan menunjuk bendahara untuk mengelola keuangan. Pemimpin Kristen bukanlah pemimpin-penguasa, melainkan pemimpin-hamba. Otoritas memimpin dilakukan bukan dengan kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasif. Tuhan Yesus bukan saja mengajarkan teori kepemimpinan, tetapi Dia sendiri memberikan teladan yang sempurna. Dia datang ke dunia ini untuk melayani manusia berdosa, bahkan memberikan nyawaNya, mati diatas kayu salib untuk penebusan dosa manusia. Sebagai murid Kristus, sesungguhnya semua orang percaya memiliki ‘karunia’ kepemimpinan. Orang yang sukses adalah ‘pemimpin rohani’ yang tidak hanya tahu menunjuk, berteriak, memerintah, dan yang menyalah-gunkaan kekuasaan. Sebaliknya, yang rela membayar harga, yang ‘turun tangan,’ yang tidak pamrih, dan yang setia tanpa berputus asa. Inilah yang disebut dengan kepemimpinan hamba (servant leadership). Pemimpin yang rela melayani, bukan menuntut dilayani. Pemimpin yang menghamba, sekaligus hamba yang memimpin. Posisi ini penting dan seharusnya melekat dalam diri seorang yang ingin sukses di dunia dan di akhirat.

Beranjak dari pemikiran ini, dapatlah disimpulkan bahwa orang yang sukses di dunia dan di akhirat adalah seorang yang menjadi ‘pemimpin rohani’ sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Pemimpin rohani yang dimaksudkan tidaklah harus seperti para nabi, atau para rasul, atau bapa-bapa gereja, atau para rohaniwan purna-waktu, atau pemimpin lainnya dengan ‘jabatan’ yang terhormat, kuasa yang besar, atau gelar tertentu, dan kredensial resmi lainnya. Sebaliknya, orang yang sukses adalah ‘pemimpin rohani’ yang hidup dan pelayanannya dapat ‘memimpin’ orang lain kepada Kristus dan KebenaranNya. Walaupun hanya satu orang yang sanggup dipimpinnya, ia sudah dapat disebut dengan pemimpin rohani. Posisi seorang pemimpin rohani adalah hamba yang melayani. Sebab itu pemimpin rohani tidak dilahirkan secara genetis. Tetapi “dilahirkan” oleh Roh Kudus, dan selanjutnya dia “dibentuk” oleh Allah secara progresif dan dinamis sesuai dengan kehendakNya dan kedaulatanNya. Kepemimpinan para nabi dan para rasul dalam Alkitab memberikan kita contoh-contoh yang jelas. Dalam kepemimpinan duniawi, pemimpin itu dilahirkan secara genetis dan dipelajari secara akademis dan empiris. Pemimpin duniawi adalah penguasa, bukan pelayan. Tidaklah demikian dengan kepemimpinan rohani. Posisi yang benar dalam kepemimpinan rohani akan menghasilkan relasi yang benar pula. Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak. Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5). Inilah rahasia keberhasilan dari seorang pemimpin. Dengan membangun relasi vertikal yang benar dan akrab denga Kristus, dia akan memimpin secara efektif dan produktif. Sebab itu adalah mutlak bagi seorang pemimpin rohani untuk disiplin dalam kehidupan doa dan mempelajari firman Tuhan secara teratur. Karena relasi vertikal inilah yang akan memberikan kuasa, kasih, penghiburan, dan kekuatan bagi seorang pemimpin sehingga dia dapat bertahan, setia, sabar, dan bertanggung jawab. Selain itu relasi vertikal yang baik juga akan menciptakan relasi horizontal yang baik dengan orang lain, baik di antara anggota keluarga, sesama pemimpin, para pengikutnya, ataupun kepada masyarakat secara luas. Relasi vertikal dan horizontal yang seimbang akan menghasilkan wibawa, pengaruh positif, keyakinan penuh dan kemampuan cemerlang untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan dengan baik pula.

Andar M. Lumbantobing dalam bukunya, Makna wibawa jabatan dalam Gereja Batak, mengatakan bahwa “Kata ‘melayani’ dianggap sebagai hakikat dari jabatan gereja. Kata Ibrani schereth, yang diterjemahkan dengan kata leitourgein di dalam septuaginta, berarti melayankan atau melayani bila dipakai dalam upacara pemujaan. Dengan demikian sebutan leitourgia adalah sebuah sebutan teknis untuk pemujaan yang dilakukan oleh seorang imam.” Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa, Tiap-tipa orang Kristen terpanggil untuk menjadi saksi Kristus. Dan untuk menunaikan pekerjaan-pekerjaan di tengah-tengah Gereja, Allah memanggil di dalam Gereja pelayan-pelayan sesuai dengan tugas Kristus yang tiga itu : Nabi, Imam dan Raja (I Kor 12 : 28). Jabatan – jabatan pelayan itu ialah:

1. Memberitakan Injil kepada anggota-anggota Gereja dan di luar Gereja

2. Melayankan sakramen, yakni Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.

3. Menggembalakan angota-anggota jemaat

4. Menjaga kemurnian ajaran, melakukan tuntunan jiwa, melawan ajaran-ajaran yang sesat.

5. Melakukan pekerjaan Diakonia.

Dalam kaitan itu Kepemimpinan BKPN dalam kepemimpinannya tidak berorietasi pada jabatan, melainkan pada pelayanan marturia, Koinonia dan Diakonia. Upaya itu dilakukan dalam rangka mewujudkan tripangggilan gereja agar Injil dapat dihayati dengan benar dan utuh.

d. Visi Dan Misi Pemimpin Kristen

Andy Stanley mendefinisikan visi adalah gambaran mental yang jelas tentang apa yang dapat terjadi, yang didorong oleh keyakinan terhadap apa yang seharusnya terjadi. Visi ini adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin. Visilah yang memimpin para pemimpin. Visilah yang membakar semangat dan mendorong pemimpin maju. Tidaklah heran jika Nehemia seorang juru minuman raja bisa berubah menjadi pemimpin besar karena visi Allah pada zamannya.

Tuhony Telambanua mengatakan bahwa “seorang pemimpin gereja harus mempunyai visi yang jelas kemana arah organisasi yang dipimpinnya, sebab bila tidak demikian dia tidak mampu menjalankan misinya dengan baik”. Inilah yang disebut kepemimpinan Visioner, arah kepemimpinannya harus jelas sekalipun belum sampai kesana. Tetapi dia berkeyakinan untuk mencapainyan dengan harapan bahwa pasti akan mencapainya. Ketika Allah memangil Abraham untuk pergi ke tanah perjanjian, konsekwensinya adalah Abraham harus meninggalkan Negerinya serta keluarganya . Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat ( Kej 12:1-2). Dalam panggilan itu ada jaminan penyertaan Allah, yang membuatnya berhasil untuk mencapai tujuan . Allah berkata “ Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”( Kej 12:1 – 3).

Tujuan dasar kepemimpinan visioner adalah untuk menjadikan semua bangsa menjadi pengikut Kristus, agar dapat memperoleh berkat keselamatan yuang diberikan oleh Tuhan bagi setiap orang yang menerimanya. Joswald Sanders Mengatakan Bahwa “ Cita-cita menjadi seorang pemimpin adalah suatu keinginan yang mulia” . Karena itu pekerjaan yang dilakukan dalam Tuhan harus dapat menghasilnya nilai kekekalan khususnya dalam pelayanan Gereja untuk mewujudkan misi itu, Hidup ini tidak akan berkembang luas, efektif, dan produktif bila seseorang tidak memiliki visi yang luas, besar, tinggi, dan dalam. Tanpa visi hidup ini akan terasa hambar, tidak berarah, tanpa tujuan, tanpa makna, tanpa keindahan, tanpa dinamika yang hidup dan menghidupkan. Sebab itu, Firman Tuhan yang dituliskan oleh raja Salomo diatas amat penting. Suatu peringatan yang urgen, bahwa ‘bila tidak ada visi, akan liar (binasalah) rakyat.’ Dengan kata lain, bila hidup kita tidak memiliki visi yang jelas, maka akan mengakibatkan hidup kita dan hidup orang lain menjadi liar, kacau, bahkan menuju kebinasaan. Betapa pentingnya visi dalam hidup orang Kristen. Visi dapat menolong kita merancang tujuan hidup yang jelas, dan menentukan arah yang benar dalam mencapai tujuan tersebut. Selain itu visi yang jelas dapat memberikan motivasi, dan semangat yang tinggi dalam perjalanan menuju tujuan yang ada walaupun banyak tantangan dan kesulitan. Visi dapat dilahirkan melalui perenungan terhadap Firman Tuhan, pergumulan dalam doa terhadap panggilan Tuhan, pencerahan Roh Kudus, pelajaran dari sejarah, refleksi terhadap pendidikan, pengalaman, dan karunia Roh Kudus, serta pergumulan terhadap situasi dan kondisi “zaman” yang ada sekarang ini. Sekali lagi, tanpa visi yang jelas, hidup seorang percaya akan berputar-putar dalam dunia ini tanpa makna yang abadi, dan tidak ada perbedaannya dengan hidup orang dunia yang penuh kefanaan. Visi akan mendatangkan kekekalan, bukan kebinasaan. Visi yang jelas haruslah diikuti dengan aksi yang terencana pula. Karena visi tanpa aksi, sama halnya dengan ilusi atau mimpi – yang sia-sia, hampa, dan mengecewakan. Sebaliknya, aksi tanpa visi yang jelas, sama dengan disposisi, distorsi, dan dekadensi. Sebab itu, visi dan aksi haruslah berjalan bersama-sama menjadi satu paket yang tak terpisahkan dalam hidup dan pelayanan yang sukses – unggul, efektif, dan produktif. Visi yang sudah diperoleh oleh seorang pemimpin haruslah dapat dituangkan dalam aksi (tindakan) konkret yang direncanakan dengan matang. Dengan demikian para pengikutnya dapat menangkap visi itu dengan jelas, dan ikut berpartisipasi dalam menggenapkan visi tersebut. Tentunya pemimpin yang baik dituntut memiliki pengetahuan tentang perencanaan yang baik, pendelegasian tugas yang tepat, kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus, dan kesungguhan pelayanan yang profesional. Rasul Paulus menyaksikan aksi pelayanannya dengan berkata: “Itulah yang kuusahakan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja kuat di dalam aku” (Kolose 1:29). Ungkapan “kuusahakan dengan segala tenaga” menunjukkan bagaimana “aksi” (tindakan) yang dikerjakan oleh Paulus secara maksimal – ini tanda dari seorang yang hidup dan pelayanannya sukses. Di pihak lain, ungkapan “dengan kuasaNya yang bekerja kuat didalam aku” menunjukkan bagaimana dalam seluruh aksi – kerja keras, rajin, dan terencana itu-dia tidak menganadalkan kehebatan diri sendiri, melainkan ‘bekerja sama’ dengan Roh Kudus yang dianugrahkan Allah kepadanya. Hal ini penting. Karena tidak mungkin seorang akan sukses di dunia dan di akhirat tanpa mengijinkan Roh Kudus memimpin, menuntun, dan menolongnya dalam seluruh aksi hidup dan pelayanannya.

Dalam perjalanan hidup dan pelayanan di dunia ini, ada berbagai tantangan, cobaan dan godaan yang mencoba mencelakakan dan menjatuhkan kita. Entah itu dari kenikmatan dunia, nafsu kedagingan, atau dari si Jahat. Bila kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, pastilah kita akan jatuh. Sebab itu kita membutuhkan “seorang penolong” untuk menasihati, dan memberikan petunjuk, agar kita tidak ‘dimangsa’ oleh ‘musuh’ yang siap mencelakakan, menjatuhkan, melahap, dan mematikan. Tuhan Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran, Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam NamaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. ”(Yohanes 14:16-17a, 26). Sebagai umat kepunyaan Allah yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, hendaknya kita bersyukur untuk Roh Kudus yang telah diutus Allah Bapa agar tinggal selama-lamanyanya dalam diri kita. Dialah yang menjadi Penolong, Penghibur, dan Penasehat dalam seluruh perjalanan hidup kita. Dialah yang akan membantu kita merencanakan aksi yang seimbang dengan visi yang juga datang dari padaNya.

Bambang H. Widjaja mengatakanan bahwa, “Seorang pemimpin harus visioner sebab dia memimpin orang untuk memandang ke depan. Bila tidak memiliki tujuan maka perjalanan itu hanya akan membuang waktu dan tenaga dengan sia-sia.” Visi adalah gambaran tentang masa depan, Visioner adalah kesanggupan untuk memandang ke depan.

Pentingnya visi adalah memungkinkan hasil yang efektif dan kinerja yang efisien dengan melakukan hal yang benar dengan cara yang benar, serta menghindarkan kita dari arah yang salah (Matius 15:14). Memberikan fokus yang menyatukan, menentukan mutu kehidupan serta menghindarkan kita dari perasaan terlalu cepat berputus asa. Bila tidak ada pemimpin/visi maka akan terjadi kekacauan karena setiap orang ingin melakukan sesuatu dengan cara/kehendaknya sendiri (Hak. 21:25). Tanpa fokus, kita tidak akan dapat menghasilkan hal yang efektif. Adanya visi akan membuat kita menjadi fokus. Jika kita mempunyai tujuan yang berbeda maka akan sulit untuk bekerjasama meskipun bersama-sama.

3. KEPEMIMPINAN TRANSFORMASI

Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakikatnya menekankan pada perlunya seorang pemimpin memotivasi para ba-wahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, dan bawahan menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. hater dan bass menyatakan bahwa “The Dynamic Of Transformational Leader-Ship Involve Strong Personal Identification With The Leader, Joining In A Shared Vision Of The Future, Or Goingbeyond The Self-Interest Exchange Of Rewards For Compliance

Pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. pemimpin transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi daripada apa yang mereka butuhkan.

Pemimpin Transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar Pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistis, menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya

Bass dan avolio (1994) dalam buku mereka yang berjudul “improving organizational effectiveness through transformational leadership”, mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai “the four i’s”. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi).dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan, mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugah semangat tim dalam organisasi melalui penumbuhan antusiasme dan optimisme. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi intelek-tual). pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.

Model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait), gaya (style) dan kontingensi. Konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti burns 1978) Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang karismatik, inspirasional dan visioner. meskipun terminologi yang digunakan berbeda, namun fenomena-fenomena kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya.

Bryman menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership), sedangkan sarros dan butchatsky menyebutnya sebagai kepemimpinan penerobos (breakthrough leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpin semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi, memulai proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya Konsep kepemimpinan rohani ialah barangsiapa ingin menjadi besar hendaklah ia menjadi pelayan, barangsiapa ingin menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba. Kata yang dipakai di sini untuk menggambarkan pelayan dan hamba ialah “diakonos” dan “doulos”.

Kata “Diakonos” berarti seorang yang menjalankan perintah dari orang lain. Misalnya, kata ini dipakai juga untuk menggambarkan, pelayan raja (Mat 22:13), pelayanan makanan (Yoh 2: 5,9), Pelayan atau pegawai pemerintahan sipil (Yoh 13: 4), Pria dan wanita pelayan gereja (Mat 23: 11), Yesus sebagai pelayan kepada orang Yahudi dalam berkhotbah, mengajar, menyembuhkan (Rm 15: 8, Gal 2: 17, Mat 4: 23-24), dan pelayan Yesus Kristus (1 Tim 4: 6). “Doulos” artinya seorang yang memberikan kehendak dirinya sendiri kepada penguasaan orang lain. Kata ini dipakai juga untuk menggambarkan, pegawai sipil (Yoh 18: 18), Orang berdosa yang melayani dosa (Yoh 8: 34, Rm 6: 16-22), Kristus pelayan Tuhan (Fil 2: 7), Musa dan semua para nabi (Why 10: 7), dan semua murid Kristus (Mat 10: 24-25). Jadi konsep kepemimpinan rohani pemimpin sebagai pelayan ialah, bahwa seseorang yang menjadi pemimpin, sesungguhnya merupakan seseorang yang mau memberikan dirinya untuk memperhatikan dan melayani orang-orang lain. Sebab terbesar dalam Kerajaan Allah itu sesungguhnya bukan soal jabatan tertinggi yang dimiliki seseorang secara struktur organisasi, melainkan dari sikap hati dan tindakan yang mau melayani sesama sebagai bagian dari pelayanan kepada Tuhan.

Dengan menerapkan prinsip ini, diharapkan seorang pemimpin Kristen akan terhindar dari gaya kepemimpinan dunia (mengikuti gaya kepemimpinan dunia, trend yang berkembang), yang lebih berorientasi kepada produk/ hasil dan program yang hanya menyentuh permukaan (artificial) saja. Dan terlebih lagi dapat menghindarkannya dari gaya kesewenang-wenangan. Sebaliknya ia akan beriorientasi pada manusai (people oriented) sebagaimana yang telah digagas Yesus dalam kepemimpinannya.

Selanjutnya Eka Dharmaputera menguraikan tentang prinsip-prinsip kepemimpinan kristiani dalam perspektif Alkitab. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhya hanya ada seorang pemimpin, yaitu Tuhan. Kisah Penciptaan (Kej. 1:26) menggambarkan bahwa Allah tidak menghendaki manusia memimpin manusia. Allah memberikan wewenang kepada manusia untuk berkuasa atas alam semesta, ikan-ikan dan burung-burung di udara. Sekalipun demikian, Allah tidak memberikan hak atas manusia untuk berkuasa atas manusia lainnya. Kekuasaan atas manusia selalu dipegang oleh Allah. Dharmaputera melanjutkan uraiannya dengan menunjukkan bahwa pada zaman Israel kuno, Allah tidak menghendaki keberadaan pemimpin bagi umat Israel. Itu sebabnya, Allah hanya mengangkat hakim-hakim bagi Israel, sehingga hanya Allah yang menjadi pemimpin. Namun, umat Israel menolak kepemimpinan Allah. Mereka mendesak kehadiran seorang pemimpin di antara Israel. Allah meluluskan permintaan mereka dengan memberikan Saul sebagai raja untuk memerintah mereka.

Berdasarkan kisah-kisah tersebut, Dharmaputera menunjukkan prinsip utama kepemimpinan Kristen ialah ada keanekaragaman bentuk kepemimpinan, tetapi hanya ada satu pemimpin, yaitu Tuhan. Semua pemimpin yang ada itu merupakan sub-ordinat atau relatif. Allah hanya memberikan mandat kepada manusia untuk memimpin sesamanya. Kepemimpinan manusia sesungguhnya bersifat subordinat, karena pemimpin yang sesungguhnya hanyalah Tuhan Kepemimpinan sub-ordinat ini perlu diterapkan seorang pemimpin Kristen, agar ia dapat terus bergantung pada Tuhan. Dengan demikian segala ukuran yang ia pakai dalam menentukan kebijaksanaan, (perencanaan, penggorganisasian, pengontrollan, pengarahan) senantiasa diukurkan dengan ukuran standar Alkitab (sesuai dengan Firman Tuhan yang tertulis). Sebab Tuhan-lah Sang Pemimpin, sehingga setiap pemimpin sub-ordinat harus menyelaraskan kepemimpinannya untuk sesuai dengan Pemimpin tertinggi. Pemimpin Kristen, wajib memberikan pengaruhnya pada bidang apapun, rohani ataupun politik. Hal itu karena kerangka pikir kekristenan tentang kehidupan adalah, apapun yang dilakukan orang Kristen haruslah merupakan ibadah kepada Tuhan.

Di dalam menyebutkan ibadah, ia mempergunakan kata ”eusebeia” artinya, sikap hati yang mau tunduk, hormat, pada Tuhan dalam segala hal yang dikerjakannya. Jadi bila pemimpin-pemimpin Kristen adalah orang-orang yang beribadah kepada Tuhan, maka ketika ia ada di dalam dunia perpolitikan pun; ia harus dapat memberikan sikap yang tunduk, hormat, pada Tuhan (memberikan nilai-nilai Kristen). Dengan sikap yang ia tunjukkan tersebut, ia telah ikut menggarami kehidupan politik bangsa.

Lebih lanjut Dwi Suryanto menjelaskan bahwa, “Kualitas kepemimpinan, lebih dari pada faktor lainnya, menentukan sukses atau gagalnya sebuah organisasi.” Menurut Burns (1978), seorang pakar kepemimpinan kelas dunia, mengatakan bahwa, pemimpin transformasional-lah yang mampu dengan sukses melakukan perubahan itu. Mengapa? Karena kepemimpinan transformasional menyediakan visi yang jelas bagi perubahan itu. Ia memiliki tujuan-tujuan yang jelas yang bisa membimbing organisasi itu menuju arah yang baru. Ia memiliki kemampuan untuk mundur sejenak dari aktivitas sehari-hari dan melihat keseluruhan proses perubahan dalam jangka panjang.

Kepemimpinan transformasional menekankan pentingnya melihat kemungkinan-kemungkinan baru, dan ia juga mempromosikan visi masa datang yang menggairahkan. Perilakunya yang selalu mencerminkan sense of purpose, makin meyakinkan pengikutnya bahwa visi itu akan mampu mereka capai.

Pemimpin transformasional ini adalah orang yang mampu membangkitkan inspirasi pada orang lain. Ia juga selalu menjadi contoh bagi bawahannya. Tujuan perubahan adalah mencapai kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menyenangkan dan juga mampu bertahan hidup selama mungkin. Untuk mencapainya, karyawan harus selalu memperoleh “suntikan” energi dari para pemimpinnya.

Kepemimpinan transformasional mampu menyediakan energi itu, dan bahkan energinya mengalir terus melingkupi para bawahannya. Ia mempengaruhi cara berpikir baru kepada karyawannya dan ia memperkenalkan proses-proses baru dalam organisasinya. Ia sadarkan karyawan tentang pentingnya perubahan terhadap eksistensi organisasinya. Perubahan adalah suatu proses. Oleh karenanya, ia akan mengubah dulu proses di pikiran karyawan. Agar proses perubahan pemikiran berjalan mulus, ia jelaskan konsep-konsepnya dengan jelas dan sederhana.

Kepemimpinan transformasional ini juga menekankan pentingnya memperoleh kebermaknaan yang tinggi dalam bekerja daripada hanya sekedar bekerja mencari nafkah. Di atas segalanya, ia mengajak karyawan untuk selalu belajar, dan ia sendiri menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembelajar sejati.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa, “Problem signifikan yang kita hadapi, tidak dapat kita pecahkan dengan tingkat pikiran yang sama ketika kita menciptakan masalah itu.”

Pemimpin transformasional ingin menarik keluar semua kualitas tertinggi manusia. Oleh karenanya, dirinya selalu terkawal oleh tujuan yang jelas, nilai-nilai, moral, dan etika yang tinggi. Ia ingin mengajak pengikutnya mencapai ketinggian derajat manusia. Ia ingin pengikutnya mampu memunculkan potensi mereka, dan mengarahkannya menuju arah-arah yang baru. Dengan berbagai prosesnya ia mampu mempengaruhi kondisi psikologis dan perilaku bawahan, menuju nilai-nilai baru yang lebih tinggi.Ia juga menyadari pentingnya budaya dalam perubahan. Ia mampu melihat budaya, seringkali menghalangi upaya perubahan, oleh karenanya, ia siap untuk mengubah budaya itu. Ia menyadari, apa pun upayanya, akan sering terhambat jika budaya di organisasi itu tidak mendukung perubahan.

BAB III

KEPEMIPINAN BKPN PADA DEKADE 1994 – 2004

1. SEJARAH BERDIRINYA BKPN

1.1. Latar belakang berdirinya BKPN

Menurut Awani wau (alm) salah seorang pendiri BKPN mengatakan bahwa, “wilayah Nias bagian selatan sudah pernah berangan –angan mendirikan satu sinode di Telukdalam yang pernah diupayakan oleh Pdt. Mareko Dachi dkk, namun karena keterbatasan tenaga, akhirnya niat itu diurungkan.”

Berdirinya Gereja Banua Keriso Protestan Nias (BKPN), berawal dari ketidak puasan dari hasil persidangan sinode BNKP diombolata seminari kecamatan Gunung Sitoli Kabupaten Nias. Menurut Mow’a Wau salah seorang peseserta sidang Sinode dari wilayah selatan mengungkapkan bahwa “Beberapa orang peserta sinode merasa keberatan atas Keputusan Majelis Sinode tersebut. Karena merasa tidak puas atas hasil keputusan sinode tersebut, maka kami melakukan protes dengan tututan agar Persidangan Sinode diulang kembali khususnya dalam pemilihan anggota BPHMS.”

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa, “Karena tuntutan tersebut tidak ditanggapi bahkan kami dianggap sebagai pemberontak, yang berakhir dengan pemecatan beberapa orang pendeta dan Satua Niha Keriso, maka sejak saat itulah segera melakukan pemisahan diri dari BNKP dengan membuat pernyataan dan melakukan ibadah tersendiri dengan nama BNKP Mandiri.” Karena BNKP Mandiri tidak dibenarkan setelah melaporkan diri kepada pemerintah, maka di ganti nama dengan BKPN ( Banua Keriso Protestan Nias) yang diaadopsi dari BKP ( Banua Keriso protestan) di Pulau-pulau Batu yang telah dilebur dan menjadi BNKP

Banua Keriso Protestan Nias ( BKPN ) di deklarasikan pada tanggal 17 mei tah 1994 di Desa Bawomataluo kecamtan Telukdalam, dengan di dukung oleh 11 jemaat lokal; yaitu 1. Jemaat Bawomataluo, 2. Jemaat Telukdalam, 3. Jemaat Orahili , 4. Jemaat Siwalawa, 5. Jemaat Bawonahono, 6. Jemaat Hiligeho, 7. Jemaat Onohondro, 8. Jemaat Hilinawalo, 9. Jemaat Hilizihono, 10. Jemaat Hilisao,otoniha 11. Jemaat Hilisalawa,.

Pada sidang sinode BKPN ke-1 tangal 17 mei 1994 tersebut telah berhasil ditetapakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Gereja BKPN serta kepengurusan sinode dengan susunan sebagai berikut: Pdt. Sarofanotona Harita, MTh ( Ephorus), Pdt. Foluaha Bidaya, B.Th (Sekjen), Pdt. Ibahati Manao, Dip.Th ( Bendum). Ketiga orang ini disebut Pengurus Harian Sinode (PHS). Selanjutnya, Badan Perimbangan Sinode (BPS) tediri dari : SMK. Awani Wau ( Ketua), Hurezame Sarumaha ( Wakil Ketua). SMK Dasiwa Wau ( Wakil Ketua) SMK. Mowaa Wau ( anggota), SMK Niluagombowo Loi (anggota), SMK Angerago Wau (Anggota), GJ. Baliu Nehe, ( anggota), GJ. Batali Fau, ( anggota), GJ. Ina Wo,osi Dachi, ( anggota), GJ. Bazanaha Hondro( anggota), SMK Famagawa Wau ( anggota), SMK Siofona Saota ( anggota), SMK A.Friska Laia, SMK ( anggota), A. Dirga Sarumaha, ( anggota).

BKPN berdiri untuk mnjawab tuntutan kebutuhan pelyanan yang lebih efektif dan efisien sesuai dengan konteks budaya setempat. Menurut Saofanotona Harita ( Ephorus) BKPN pertama, menguraikan bahwa, berdirinya BKPN di latar belakangi oleh beberapa faktor yaitu : Pertama, Faktor Kepemimpinan . Kedua ; Faktor Sosial Budaya ketiga faktor Ekonomi . keempat Faktor pemerintahan. kelima , Faktor Geografis, keenam, Faktor sejarah.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa, dalam sejarah kepemimpinan BNKP selama berpusat di Gunung Sitoli, orang dari wilayah Nias bagian selatan khususnya di Telukdalam samapai pada tahun 1995 ini tidak pernah menjabat sebagai sekum apalagi Ephorus. Hal ini bukan karena sumber daya manusia tidak ada, akan tetapi karena tidak pernah diberi kesempatan atau peluang.

Hal yang senada juga dituturkan oleh Bambowo Laia bahwa, ” salah satu alasan saya meninggalkan pelayanan di BNKP karena penempatan saya setelah selesai study bertentangan dengan hati nurani saya, terkesan adanya pembatasan karier sehingga akhirnya saya memakai sikap Abraham terhadap Lod; apabila kamu ke kanan, maka saya akan ke kiri.” Beliau menambahkan bahwa, peristiwa masa lalu saya mencoba melupakan, dan setelah kembali di Nias untuk mengabdikan diri membangun daerah ini, saya kembali mencoba membangun hubungan dengan BNKP untuk bersama-sama melayani. Itulah sebabnya pada tahun 2000 saya memohon kepada pimpinan BNKP agar diberi kesempatan membuka sub sinode BNKP di wilayah Telukdalam Nias bagian Selatan. Namun karena usulan itu tidak diakomodir akhirnya saya memilih jalur lain dengan membuka gereja sendiri dengan nama BNKP Raya.

Dari pandangan tersebut dapat dipahami bahwa yang merupakan latar belakang beridinya BKPN adalah karena faktor kepemimpinan. Adanya keinginan untuk menadi pemimpin di dalam kalangannya sendiri dan tidak hanya dipimpin terus menerus.

Ditinjau dari sosial budaya, Nias bagian selatan khususnya di Kec. Teluk dalam , PP. Batu dan Hibala memiliki kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan budaya Nias pada umumnya, baik dari struktur kemasyarakatan , dari segi bahasa maupun ada istiadat. Masyarakat Nias bagian selatan dapat mengerti bahasa Nias secara umum, karena bahasa Alkitab, sedangkan Nias pada umumnya hanya sebagian kecil yang dapat mengerti bahasa Telukdalam dan Pulau Pulau Batu. Itulah sebabnya BKPN berupaya dalam pemberitaan Injil disamp[aikan dalam bahasa setempatyaitu bahasa ibu agar arti Injil dapat dipahami dengan benar. Ditinjau dari segi Pemerintahan masih belum optimal sesuai dengan harapan masyarakat. Potensi alam dan laut yang dapat menunjang perkembangan objek wisata belum dikembangkan secara menyeluruh. Dalam hal ini BKPN terbeban untuk mengembangkan potensi tersebut dengan cara memperjuangkan Nias bagian selatan menjadi satu kabupaten tersendiri di sumatera utara.

Hal iu telah menjadi kenyataan atas dukungan semua pihak, baik dari masyarakat, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, sehingga pada tangga 27 Pebruari 2002 Nias selatan berhasil ditetapkan menjadi satu kabupaten dengan ibukota Telukdalam dengan delapan kecamatan yang tergabung yaitu Kecamatan Telukdalam, Kecamatan lahusa, Kecamatan Gomo, Kecamatan Lolowau, Kecamatan Amandaya, Kecamatan Lolomatua, Kecamatan PP. Batu dan Kecamatan Hibala, dengan jumlah jiwa sebanyak 289.432 pada tahun 2008. Atas kasih karunia Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja, samapai pada tahun 2008 anggota jemaat BKPN berjumlah 23.165 jiwa yang terhimpun dalam 63 jemaat lokal yang tersebar di wilayah kabupaten Nias Selatan .

Gereja BKPN sebagai satu-satunya Sinode terbesar di Kabupaten Nias Selatan telah ikut mendukung program pemerintah dengan berbagai kontribusi pemikiran yang disampaikan kepada pemerintah, baik secara tertulis maupun secara lisan pada iven tertentu. Hal itu dilakukan agar peran serta Gereja dalam menggarami dunia, semakin nyata serta suara profetis gereja tidak menjadi kabur.

Ditinjau dari segi sejarah, BKPN hadir bukan secara kebetulan dalam waktu yang tidak ditentukan, melainkan benih yang pernah ditaburkan oleh tokoh-tokoh Nias Selatan barulah terealisasi pada saat yang tepat sesuai dengan maksud Tuhan Yesus Kristus, tepatnya tanggal 17 mei 1994

Hal itu menjadi nyata dalam gerakan berdirinya BKPN, hasrat masyarakat untuk bergabung dalam pelayanan BKPN mengalir tanpa ada unsur paksaan, akan tetapi didorong oleh keinginan dan kesadaran tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun untuk dilayani dan digemalakan dalam organisasi gereja BKPN. Respon masyarakat cukup antusias terbukti pada tahun 1994 anggata jemaat BKPN hanya 11 jemaat lokal, dan samapai pada tahun 2004 anggota jemaat mencapai 56 jemaat lokal dan terakhir pada tahun 2008 berjumlah 63 jemaat lokal dengan jumah jiwa sebanyak 23.165 jiwa.

Berdasarkan data ini membuktikan bahwa bagian terbesar dalam anggota jemaat BKPN adalah perpindahan dari gereja BNKP yang merupakan gereja asal dan hanya sebagian kecil yang merupakan perintisan yang dilakukan dibeberapa temapat yaitu Batam, Pekan Baru dan Sibolga.

Tujuan berdirinya BKPN sebagaimana tetuang dalam anggaran dasar memiliki empat tujuan dasar yaitu : 1). Tujuan Misiologis adalah dalam Pelayanan BKPN bertujuan memberitakan Injil kepada segala makhluk di seluruh dunia, berdasarkan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus (Matius 28 : 19 – 20), Markus 16 : 15, Tata Gereja 1994 Pasal 10. 2). Tujuan Reformis yaitu melakukan pembaharuan dalam bidang pelayanan, dari cara pelayanan yang statis dan tradisional kepada cara pelayanan yang lebih kreaktif dan inovatif (Roma 12:1-2. 3). Tujuan Sosiologis yaitu melayani manusia berdasarkan konteks budayanya, agar dengan pendekatan itu sebanyak mungkin orang dibawa kepada Yesus Kristus (I Korintus 9 : 19 – 23). 4).Tujuan Historis adalah BKPN berdiri yaitu untuk melanjutkan sejarah yang telah dibenihkan oleh para hamba Tuhan dan para tokoh gereja di Telukdalam pada tahun 1964

1.2. Gambaran Umum BKPN Dewasa ini

a. Struktur Organisasi

Sistim pemerintahan Gereja dikenal dengan 4 bagian yaitu Papal, Presbiterian, Presbiterian Sinodal, dan sistim Kongresional. Dari ke empat sistim Pemerintahan gereja tersebut maka BKPN menganut sistim pemerintahan Gereja Presbiterian Sinodal yang menekankan keutuhan persekutuan seluruh jemaat. Pola pemerintahan Gereja yang diananut dan dilaksanakan oleh Gereja BKPN adalah Kepemimpinan Kolegial dengan menjunjung tinggi Otoritas Imam sebagai Gembala yang Primus InternPares. Sistim ini memungkinkan karena peranan penatua yang dikenal dengan presbiter menjadi sangat menentukan dalam pengambilan keputusan tertinggi di BKPN.

Berdasarkan Tata Gereja BKPN tahun 1994 struktur persekutuan di BKPN dikenal dengan Majelis Pekerja Sinode (MPS) yang terdiri dari dua unsur yaitu, pertama adalah Pengurus Harian Sinode (PHS) yaitu Ephorus, Sekretaris Jenderal, Bendahara umum. Kedua adalah Badan Pertimbangan Sinode (BPS) yang beranggotakan 12 orang yang dipimpin oleh ketua dan 2 orang wakil Ketua. Di Resor dikenal dengan nama Pengurus Harian Resor dan Badan pertimbangan Resor . Sedangakan di Jemaat dikenal dengan nama Pengurus Harian Jemaat dan Badan Pertimbangan. Karena Sistim ini sering mengalami benturan , maka pada tahun 2006 struktur ini diubah menjadi Majelis Pekerja Harian Sinode yang menyatu dalam MPS yang dipimpin oleh Ephorus. Demikian seterusnya di Resor dan Jemaat dengan nama Majelis Pekeja Resor yang dipimpin oleh Praeses dan Majelis Pekerja Jemaat yang dipimpin oleh Pendeta atau Guru Jemaat. Sistim persekutuan ini menekankan pada kepemimpinan yang bersifat kolektif dibawa satu komando.

Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Tata Gereja dan Peraturan rumah tangga BKPN bahwa pemegang kekuasaan tertinggi di BKPN adalah Majelis Sinode yang bersidang sekali empat tahun. Jemaat.

BKPN sebagai Persekutuan Orang-orang percaya sebagai pengikut Kristus bergabung dalam struktur persekutuan yag disebut : Jemaat (Jemaat Persipan, Pos Pelayanan), Resor dan Sinode. Untuk mengurus Pelayanan di jemat, maka dibentuk Majelis Pekerja Jemaat (MPJ), dan untuk melaksanakan pelayanan setiap hari dijemaat, maka dipilih Majelis Pekerja Harian Jemaat (MPHJ) yang terdiri dari Guru jemaat, sekretaris Jemaat dan Bendahara jemaat. Untuk mengurus Pelayanan di Resor , maka dibentuk Majelis Pekerja Rseor (MPR), dan untuk melaksanakan pelayanan setiap hari di Resor, maka dipilih Majelis Pekerja Harian Resor (PHR) yang terdiri dari Pendeta Resor, sekretaris Resor dan Bendahara Resor. Sedangkan untuk mengurus Pelayanan di Sinode, maka dibentuk Majelis Pekerja Sinode (MPS) dan untuk melaksanakan pelayanan setiap hari di Sinode, maka dipilih Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) yang terdiri dari Ephorus , Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum. Selain Majelis Pekerja Jemaat, majelis Pekerja Resor dan Majelis Pekerja Sinode dalam struktur organisasi BKPN juga dibentuk Badan Musyawarah Pndeta (BMP) BKPN sebagai wadah persekutuan para pendeta yang terdiri dari ketua, Sekretaris dan Bendahara yang dipilih dari antara Pendeta dan bertugas selama satu peride empat tahun.

Untuk memudahkan tugas pelayanan maka BKPN membagi tugas dan bertanggung jawab dalam ruang lingkup pelayanan yaitu:

a. Jemaat dilayni dan dipimpin oleh Pendeta atu Guru Jemaat.

b. Resor dilayani dan dimpin oleh Pendeta Resor (Praeses)

c. Sinode dilayni dan dipimpin oleh Ephorus

Dalam membantu pelayanan BKPN disemua jajaran maka diangkat Pengurus Departemen, Yayasan dan lembaga. Pengurus Departemen dimaksud terdiri dari:

Departemen Pelayanan wanita (DPW), Departemen Pelayanan Sekolah Minggu (DPSM), Departemen Pelayanan Pemuda dan Remaja (DPPR), Departemen Pelayanan Kaum Bapak (DPKB), Departemen Pelayanan Diakonia (DPD), Departemen Pelayanan Misi (DPM), Departemen Pelayanan Musik Gerejawi (DPMG). Untuk mengemban Misi BKPN dibidang Pendidikan maka telah mendirikan yayasan yang dengan nama ”Yayasan Mitra Ksih Agape BKPN” dengan membuka 2 unit sekolah yaitu: 1. SMP Swasta Mitra Kasih BKPN , 2. SMK Swasta Mitra Kasih BKPN. Selain Yayasan juga telah membentuk Lembaga dengan nama ” Lembaga Dana Pensiun Pelayan BKPN”. Lembaga ini bertugas untuk mengurus Dana Pensiun Pelayan di BKPN yang diangkat dan diberhentikan oleh MPHS BKPN sesui dengan ketentuan yang berlaku.

Struktur Persekutuan di BKPN terdiri dari Jemaat, Resor dan Sinode. Jemaat adalah :

1. Persekutuan orang-orang kudus yang percaya kepada Yesus Kristus atas hasil penginjilan yang dilakukan oleh BKPN yang tergabung dalam satu persekutuan sekurang-kurangnya 100 jiwa ledih.

2. Yang kurang dari 100 jiwa disebut jemaat persiapan, dan kurang dari 50 jiwa disebut Pos Pelayaan.

3. Jemaat Baru yang memberikan surat pernyataan kepada MPHS BKPN yang ditanda tangani oleh seluruh Kepala Keluarga dan diremikan secara syah keanggotaannya oleh MPHS BKPN setelah memenuhi ketentuan penerimaan jemaat Baru.

4. Hasil Pemekaran dari satu jemaat atas usul Majelis Pekerja Harian Jemaat (MPHJ) melalui Majelis Pekerja Harian Resor (MPHR) yang ditetapkan dengan suatu surat Keptusan Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS).

Majelis Pekeja jemaat (MPJ) berjumlah 12 orang yang terdiri dari : pendeta/ Guru Jemaat, Utusan Satua Mbanua Keriso 8 orang, Utusan Ketua Departemen 1 orang dan utusan tokoh jemaat/cendekiawan 2 orang yang dipilih dalam Persidangan majelis jemaat sekali empat tahun. Setelah Majelis Pekerja Jemaat (MPJ) terpilih, maka dari antara mereka dipilih sekretaris Jemaat dan Bendahara Jemaat pada persidangan Majelis jemaat yang ditetapkan sebgai unsur Majelis Pekerja Haria Jemaat (MPHJ), sedangkan pendata/Guru Jemaat tidak dipilih karena secara Exofisio menjadi ketua MPHJ.

Resor adalah Persekutuan dari beberapa jemaat yang berdekatan secara Georafis yang beranggotakan minimal 3 jemaat lokal atau lebih yang dipimpin oleh seorang pendeta Resor yang disebut Praeses dalam satu kesatuan Majelis Pekerja Harian Resor (MPHR) dan Majelis Pekerja Resor (MPR). Majelis Pekerja Resor berjumlah 15 orang yang terdiri dari : pendeta Resor, Pendeta Jemaat, Utusan 3 orang, Utusan Satua Mbanua Keriso 5 orang, utusan tokoh jemaat/cendekiawan 5 orang Utusan dan utusan Ketua Departemen 1 orang yang dipilih dalam Persidangan majelis Resor sekali empat tahun. Setelah Majelis Pekerja Resor (MPR) terpilih, maka dari antara mereka dipilih sekretaris Resor dan Bendahara Resor pada persidangan Majelis Resor yang ditetapkan sebgai unsur Majelis Pekerja Harian Resor (MPHR), sedangkan pendata Resor tidak dipilih karena secara Exofisio menjadi ketua MPHR

Sinode adalah Keseluruhan Wilayah pelayanan BKPN dalam satu kesatuan Wilayah Pelayanan Gerejawi. Sinode dipimpin oleh Ephorus bersama Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum dalam persekutuan yang disebut Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) dan Majelis Pekerja Sinode (MPS). Majelis Pekerja Snode berjumlah 17 orang yang terdiri dar: Utusan Pendeta 5 orang, utusan Guru Jemaat 3 orang, utusan Satua mbanua Keriso (sintua) 5 orang, utusan tokoh jemaat/cendekiawan 3 orang dan unsur ketua Departemen 1 orang.

Majelis Pekerja Sinode (MPS) dipilih dalam persidangan Majelis Sinode yang ditetapkan dalam jabatan 1 (satu) periode 4 tahun berdsarkan ketentuan yang berlaku di BKPN. Dari antara majelis Perkerja Sinode (MPS) terpilih yang berstaus pendeta segera dilakukan pemilihan Ephorus, Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum secara berurutan oleh Majelis Sinode untuk ditetapkan menjadi Pimpinan BKPN dalam masa satu periode yang disebut Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) BKPN.

Untuk menggumuli, merumuskan,memutuskan dan menetapkan segala kepentingan BKPN harus melalui sidang yang terdiri dari; Persidangan Majelis Sinode, Persidangan Majelis Resort dan Persidangan Majelis Jemaat.

Majelis Sinode sebagai perwujudan persekutuan anggota Jemaat dalam penghayatan dan penampakan ke Esaan Gereja adalah Lembaga dan pemegang kekuasaan tertinggi di BKPN. Keanggotaan Majelis Sinode diatur dalam Peraturan Rumah Tangga BKPN

b. Keanggotaan

Keanggotaan BKPN adalah Imamat Am orang percaya tanpa membedakan Keturunan, suku, ras, Kedudukan, umur dan Jenis Kelamin serta status sosial (I Petrus 2: 9).

1. Mereka yang telah dibaptis di Gereja BKPN, baik pada masa anak-anak maupun setelah dewasa.

2. Mereka yang telah dibaptis di Gereja lain dan atas kesadaran sendiri dengan memberikan permohonan untuk diterima menjadi anggota tetap maupun sebagai anggota sementara di BKPN sesuai dengan peraturan

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Rumah Tangga BKPN tahun 2006 anggota BKPN adalah :

1. Orang Kristen yang telah menerima Baptisan dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus di Gereja BKPN baik anak-anak maupun orang dewasa.

2. Orang yang telah bersedia menerima Kristus sebagai Juruselamat peribadinya, Raja diatas segala raja, Kepala Gereja atas hasil misi / pelayanan BKPN.

3. Orang Kristen yang telah mendaftar atas kesadaran sendiri dengan membuat Surat Pernyataan tertulis menjadi anggota BKPN, menerima Tata Gereja, Peraturan Rumah Tangga dan peraturan-peraturan yang berlaku serta Tata Ibadah Gereja BKPN.

Setiap anggota BKPN mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menerima berkat-berkat Tuhan dan melaksanakan tugas PanggilanNya menurut Kasih Karunia Allah. Setiap anggota BKPN berhak untuk :

1. Menerima sepenuhnya berkat Tuhan melalui Gereja BKPN

2. Menerima sepenuhnya Pelayanan Gerejawi sesuai dengan Alkitab.

3. Memperoleh perlakuan yang sama tanpa membedakan status sosial, ras dan jenis Kelamin.

Berakhirnya Keanggotaan dalam BKPN sesuai dengan Peraturan Rumah Tangga BKPN apabila :

1. Meninggal dunia.

2. Atas permintaan sendiri, secara lisan atau tulisan.

3. Telah melanggar dan tidak mematuhi lagi segala ketentuan yang berlaku di organisasi Gereja BKPN.

4. Telah nyata tidak aktif mengikuti kebaktian dan pelayanan di BKPN, bahkan ternyata aktif dalam kegiatan panitia organisasi yang belum disyahkan oleh MPJ, MPR atau MPS BKPN.

5. Ayat 2-4 dikeluarkan Surat pemberhentian berakhir keanggotaannya dari BKPN atas dasar hasil rapat Majelis Jemaat dengan persetujuan MPR dan sepengetahuan MPHS BKPN.

Menurut data statistik tahun 2004 keanggotaan BKPN secara menyeluruh

berjumlah 19.752 jiwa, yang tesebar diwilayah Nias selatan yang dibagi dalam 9 wilayah Resor yang terhimpun dalam 46 jemaat lokal. Apabila dibandingkan dengan data statistik pada tahun 1994 jumlah anggota jemaat BKPN sebanyak 11.432 yang terdiri dari 11 jemaat Lokal dan dua wilayah Resor, yaitu Resor Baomataluo dan Resor Telukdalam. Resor Bawomataluo terdiri dari : 1. Jemaat Bawomataluo, 2. Jemaat Orahili, 3. Jemaat Siwalawa, 4. Jemaat Onohondro, 5. Jemaat Hilinawalo, 6. Jemaat Hilisalawa, 7. Jemaat Ndaso. Sedangkan Resor Telukdalam memimpin 9 jemaat Lokal yang terdiri dari: 1.Jemaat Telukdalam, 2.Jemaat Bawonahono, 3.Jemaat Hilizihono, 4.Jemaat Hiligho, 5.Jemaat Hilisaotoniha.

Bila dibandinkan dengan keadaan anggota jemaat pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari jumlah jiwa 19.752 dan jumlah jemaat Lokal menjadi 46 yang terdiri dari 9 resor dan pada tahun 2008 terus bertambah menjadi 23.263 jiwa yang terdi dari 56 jemaat lokal yang dibagi dalam 15 wilayah pelayanan Resor.

c. Pelayan Gerejawi

Tuhan telah menyediakan para pelayan GerejaNya untuk memberitakan dan menyaksikan kasih karunia keselamatan kepada manusia. Pelayan di BKPN adalah Gembala sebagai cerminan pelayanan Yesus Kristus sebagai Gembala Agung.

Pelayan adalah dari anggota BKPN yang terpanggil untuk melayani Tuhan dalam tugas panggilan Gereja, diantaranya : Pendeta, Guru Jemaat, Evangelis dan Satua Mbanua Keriso (Penatua). Seluruh anggota Jemaat BKPN terpanggil dan bertanggungjawab dalam pelayanan berdasarkan Imamat Am orang percaya. Setiap pelayan Gereja di BKPN terikat kepada Firman Allah yang disaksikan dalam Alkitab,Pengakuan Iman Rasuli,Tata Gereja,Peraturan Rumah Tangga dan peraturan-peraturan lainnya serta Tata Ibadah yang berlaku di BKPN.

Pelayanan Khusus Pendeta adalah Sakramen Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus, Peneguhan Sidi, Pengurapan / Peneguhan Pelayan , Pemberkatan Nikah dan Penguburan orang mati. Hanya dalam hal tertentu tugas khusus Pendeta sebagaimana dimaksud pada ayat 1 pasal ini dapat dilimpahkan pelaksanaannya kepada pelayan yang bukan Pendeta.

Selain unsur diatas sesuai dengan kebutuhan dapat diangkat Pengurus Departemen/Komisi, staf atau pegawai baik di sinode Resor dan jemaat maupun di yayasan guna memperlancar pelayanan setiap harinya. Pada tahun 1994 sejak berdirinya BKPN jumlah Pendeta hanya 4 rang, Guru Jemaat 11 orang ditambah dengan Penatua dan penurus Komisi di setiap jemaat. Karena para pelayan di BKPN sangat terbatas jumlahnya, maka kepemimpian sangat lemah karena tidak bisa melayani jemaat secara efektif, apalgi dalam hal melayankan sakramen yang hanya dilakukan sekali enam bulam disetiap jemaat secarabergiliran.

Melihat kondisi ini seiring dengan bertambahnya anggota jemaat maka pada periode pertama BKPN mengutus putera puteri angota Jemaat BKPN untuk belajar dibeberapa Sekolah Tinggi Theologia yang bekerja sama denan BKPN yaitu : STT. Eben Hezer Tanjung Enim, STT. SET IA Jakarta, STT. Doulos Jakarta, STT. Nusantara Malang, STT.IAA Surabaya, SAAT Malang dan STT. Parakletos Yogyakarta.

Dari para lulusan Sekolah Teologi yang telah berhasil menyelesaikan study dan mempunyai beban untuk melayani di BKPN, maka setelah menyelesaikan masa Vicariat di BKPN baru ditahbiskan menjadi Pendeta sehinga pada tahun 2004 jumlah Pendeta di BKPN bertambah menjadi 14 orang, dan sudah tentu bahwa pada masa yang akan datang jumlah pelayan yang bersedia melayani di BKPN terus bertambah. Dengan demikian beban Pelayan mulai berangsur angsur normal karena kerja keras para pendeta dilapangan yang telah ditempatkan.

d. Program Pelayanan

Pada periode pertama dan kedua yaitu tahun 1994 sampai 2004 program utama dalam Kepemimpinan BKPN adalah pembenahan organisasi, penyusunan beberapa pertaturan dan pengurusan lealitas untuk terdaftar menjadi salah satu Denominasi Gereja di Indonesia. Beberapa peraturan yang bearhasil diterbitkan dalam periode ini adalah Tata Gereja, Peraturan Rumah Tangga, Peraturan Vicar seta petunjuk pelaksanaan. Sedangkan peraturan yang lain masih bersifat darurat, hanya dalam batas konsep dimana hal – hal yang dianggap ada benturan di lapangan baru diputuskan melalui rapat/ sidang Majelis Pekerja Sinode (MPS).

Pengurusan legalitas BKPN untuk terdaftar di Departemen Agama RI belum berhasil karena beberapa kentuan peryaratan Pendaftaran organisasi Gereja baru belum dapat dipenuhi. Hal ini juga menjadi tantangan dalam program pelayanan BKPN karena bagaimanapun warga jemaat membutuhkan kepastian Hukum agar tidak dianggap gereja Liar yang tidak dikenal oleh Pemerintah.

Selain Program pembenahan Organisasi dan pengurusan legalitas, kepemimpinan BKPN diarahkan dalam peningkatan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas iman warga jemaat yang diberlakukan dengan penataran kepada para pelayan dan kebaktian kebangunan rohani serta kegiatan ibadah disetiap sektor di rumah anggota jemaat secara bergantian. Persekutuan disektor ini yang dilaksanakan setiap malam menjadi kekuatan dalam pelayanan di BKPN dalam menjawab setiap pergumulan dan kegelisahan anggota jemaat yang disampaikan lewat renungan Firman Tuhan.

Dalam rangka membangun kerohanian jemaat maka BKPN mengarahkan program pelayanan melaui kebaktian kebangungan Rohani (KKR) dengan mengundang pembicara dari jakarta, surabaya, Medan, korea Selatan dan jepang yang berssdia di Telukdalam.

2. KEPEMIMPINAN BKPN

2.1. Model Kepemimpinan

Model Kepemimpinan yang diterapkan di BKPN adalah kepemimpinan Hamba. Artinya para pemimpin di BKPN harus menyadari bahwa dipangil untuk melayani dan bukan dilayani. Hal itu menjadi topik utama dalam sosialisasi struktur organisasi dan kepemimpinan di BKPN mulai dari Sinode sampai di jemaat. Hal itu menjadi salah satu bukti pembaharuan yang dilakukan di BKPN yang sangat dirasakan oleh anggota jemaat.

Dengan berpedoman dalam Pelayanan Tuhan Yesus para pemimpin disebut Hamba Tuhan. Kepemimpinan Gereja harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bukan kepada manusia. ”Kekuatan uang , tekanan ekonomi dan pengaruh politik atau sosial budaya, bukanlah hambatan bagi pemebritaan injil.” Yang berpusat pada kedaulatan Allah yang diteguhkan diatas model kepemipianan ” pelayan hamba” yang berorientasi kepada keberhasilan dan berfokus kepada melayani yang didasari atas Kasih Kristus.

Eka Darmaputera mengatakan bahwa, “Kepemimpinan yang baik merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan, kestabilan, dan kemajuan kelompok apapun. Maksudnya, tanpa kepemimpinan yang baik, kelompok apaun di dunia ini akan rentan konfltik serta rawan perpecahan, dan oleh sebab itu sulit bertumbuh atau berkembang.”

2.2. Gaya Kepemimpinan

Sebagaimana yang telah dipaparkan pada Bab dua mengenai gaya Kepemimpinan, maka gaya kepemimpinan BKPN adalah memakai gaya Kepemimpinan parsipatif dan konsultatif. Karena gaya ini lebih relevan akurat unuk jemaat BKPN dimana dalam pelaksanaannya banyak melakukan interaksi dengan para anggota organisasi serta memberi kepercayaan pada kemampuan anggota untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai tanggungjawab mereka.

Gaya kepemimpinan memang tidak selalu sama, tergantung kepada pemimpin jemaat yang dipimpinnya. Namun gaya kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan dalam sebuah kepemimpinan

BKPN dalam kepemimpinan dan pelayanannya hanya berlandaskan iman dan keberanian berdasarkan semanngat kemandirian tanpa didukung oleh saranan dan prasarana yang memadai. Keberanian memikul tatanggung jawab dan beban yang berat dalam segala keadaan merupakan faktor yang tidak bisa dihindari, dan mau tidak mau harus dilakukan dengan setia.

Hal itu seiring dengan apa yang dikatakan Robert H. Schuller, ” Pikullah tanggung jawab, peganglah kendali janganlah sekali-kali melepaskan kepemimpinan, karena kepemimpinan ialah suatu kekuatan untuk memilih impian-impian anda dan menentukan tujuan anda.” Selanjutnya beliau menganjurkan agar setiap pemimpin yang mau berhasil harus melakukan prinsip-prinsip kepemimpinan dinamis yang digariskan diawah ini: yaitu serahkanlah kepemimpinan hanya pada iman.

Dari prinsip kepemimpinan dinamis yang dipaparkan diatas jelaslah bahwa faktor iman sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam kepemimpinan. Iman mulai ketika kita percaya terhadap gagasan yang diberikan Tuhan kepada kita . Keberhasilan bukan tergantung pada posisi dalam hidup, tetapi pada rasa hormat terhadap gagasan-gagasan positif yang mengalir kedalam imajinasi kita. Iman tidak pernah membuat manusia gagal, tetapi seseorang gagal kalau dia membuang imannya. Yesus berkata, ” sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkat kepada gunung ini : pindah dari tempat ini kesana, maka gunung itu ia akan pindah, dan takkan ada yang mustahul bagimu ( Matius 17: 20 ).

a. Terbuka terhadap koreksi

Dalam kepemimpinan BKPN selalu mengutamakan keterbukaan. Pemimpin menerima saran dan koreksi dari siapa saja, baik dari anggota jemaat, gereja tetangga maupun dari pastor dan tokoh-tokoh Katolik yang memberikan kontribusi pemikiran. Hal itu nyata dalam setiap acara penting di BKPN selalu melibatkan para pemuka Agama baik dari kalangan protestan maupun dari Gereja Katolik untuk menyampaikan kata sambutan.

Fotorisman zalukhu mengatakan bahwa, ”Seorang pemimpin adalah orang yang pertama merasakan adanya kesalahan, sehingga dengan demikian ia melakukan tindakan korektif.” Kalau seorang Pemimpin melakukan kesalahan, ia membutuhkan ketenangan diri untuk menerima koreksi atas kesalahan itu. Ia harus terbuka terhadap kesalahan termasuk kesalahananya sendiri. Raja Daud pernah measakan itu. Ia terjebk dalam skandal yang memalukan. Mula-mula ia mengingini milik orang lain, lalu berzinah dan akhirnya melakukan pembunuhan. Dalam keadaan demikian, Raja Daud, yang dengan sadar melakukan perbuatannya itu, pasti akan sangat sulit dikoreksi. Namun, nyatanya Daud justru sangat terbuka terhadap koreksi dari Tuhan melaui Natan. ” Engkau telah bersalah!” seru Natan tegas dan jelas di hadapan Raja Daud, maharaja Israel. Dan sikap Daud dengan tulus berkata ” Aku telah berdosa kepada Tuhan,” tuturnya kepada Natan. Ia bahkan berpuasa dan berdoa memohon pengampunan kepada Tuhan. Ia menangisi tindakannya, dan lebih lagi menangisi betapa ia telah melanggar ammanah Allah. ” Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar, ” Mazmur 51 : 3.

Kepemimpinan berkaitan erat dengan situasi. Kepemimpinan adalah kombinasi antara pemimpin yang tepat yang memimpin kelompok yang tepat dalam serangkaian situasi yang tepat. Pemimpin yang paling kompeten adalah pemimpin yang dapat meneruskan kepemimpinannya dalam sejumlah situasi dalam arti yang paling luas. Yakub Tomalata menambahkan bahwa, ”Jika anda ingin menarik dan memupuk pemimpin yang baik, bangunlah di dalam organisasi anda sasaran dan tujuan yang membutuhkan dedikasi dan keberanian. Tentukanlah standar perilaku, tanggung jawab, dan kinerja yang tinggi. Perlihatkan rasa hormat kepada seseorang dan pekerjaannya. Ciptakanlah iklim di mana pemimpin yang baik akan terlihat dan dipupuk.”

Kepemimpinan Kristen ialah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Itu merupakan kepemimpinan yang telah diserahkan kepada kekuasaan Kristus dan teladan-Nya. Para pemimpin Kristen yang terbaik memperlihatkan sifat-sifat yang penuh dengan dedikasi tanpa pamrih, keberanian, ketegasan, belas kasihan, dan kepandaian persuasif yang menjadi ciri pemimpin agung.

b. Terbuka terhadap segala Perubahan

Di sini yang dituntut adalah kerjasama yang baik dan kesadaran akan tanggungjawab masing-masing. Sekali lagi: tujuan bukanlah untuk menjatuhkan mereka yang berada di depan. Namun yang dituntut oleh mereka di depan adalah kesediaan untuk membagi tanggung jawab dengan yang lain, membiarkan dan menguatkan orang lain untuk memimpin dalam bidang mereka masing-masing dan memungkinkan suatu koordinasi yang harmonis. Kita harus belajar dalam gereja untuk tidak memegang secara statis posisi masing-masing. Yang penting adalah bagaimana menjawab panggilan dan fungsi kepemimpinan yang paling dibutuhkan dalam situasi tertentu. termasuk kesedian untuk meletakkan jabatan/suksesi.

Seorang pemimpin menjadi “konservatif” dalam arti yg sebenarnya; mempertahankan dan menjamin nilai, tradisi dan aturan gereja yang menjadi identitas persekutuan. Disini sering dituntut bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan yang baik dalam menaati nilai-nilai perseketuannya. Dan ini tidak hanya berlaku jika konformitas dituntut oleh nilai-nilai etika Kristen, namun juga jika dituntut oleh kebiasaan atau tradisi masyarakat setempat yang harus diperhatikan. Paulus: demi mereka yang “lemah”, tidak menjadi batu sandungan dan hambatan untuk pemberitaan firman.

Di sisi lain, seorang pemimpin gereja selalu harus sadar bahwa formalisme aturan, kelembagaan yang statis dan sikap yang eksklusif adalah lawan gereja sebagai gerakan misi Allah dan dinamika Roh Kudus. Injil Yesus Kristus selalu menantang kita untuk menerobos dan mentransformasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan kita sesuai dengan inti perintah kasih terhadap Allah dan sesama manusia. Disini kepemimpinan gereja harus selalu siap untuk membaca tanda-tanda zaman, memiliki “sense of krisis” dari pada hanya sibuk dengan masalah-masalah intern gereja.

Kepemimpinan gereja harus mendengar, mengangkat dan menyuarakan suara-suara kenabian dalam gereja sehingga gereja dapat menjadi motor untuk perubahan atau transformasi masyarakat, dan sekaligus berani untuk ditransformasikan atau mengalami perubahan sesuai dengan konteks di mana kita berada.

Dalam kondisi hidup susah dan menderita, kehadiran iman dalam diri setiap orang menjadi sangat vital, tidak dapat ditawar-tawar. Tetapi jikalau seseorang tidak mau menjadi korban keganasan ‘badai’ hidup yang sedang mengamuk, maka kerohanian harus ditingkatkan.

Dalam kondisi demikian, maka datanglah murid-murid Yesus membangunkan Yesus yang ketepatan sedang tertidur dan menyerukan: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” (Mat.8:25).“Mengapa kamu takut?”Menjawab kepanikan dan ketakutan murid-murid tersebut di atas, Tuhan Yesus malah bertanya: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” (Mat.8:26). Jika ketakutan para murid adalah hal yang wajar, mengapa Tuhan Yesus masih menegur juga? Ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari ketakutan yang dianggap wajar tersebut. Rupanya, sekalipun hal itu dianggap wajar, namun Yesus tidak menghendaki hal itu terjadi, karena Tuhan Yesus ada bersama mereka

Dari teguran Tuhan Yesus, mendapat pelajaran bahwa memang itulah masalahnya. “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Atau dalam bahasa Yunani kalimat itu berarti, “Mengapa kamu takut, kamu yang kecil iman (Oligopistoi). Jadi jelas, Tuhan Yesus menyoroti ketakutan akibat masalah iman.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa para murid tidak perlu takut sekalipun badai mengamuk. Demikian juga, Tuhan Yesus menegaskan bahwa para murid tidak perlu takut sekali pun kapal sudah tembus dan kapal mulai penuh dengan air, sebab Dia ada bersama mereka berlayar melewati badai tersebut. Tuhan Yesus menegaskan bahwa Dia sanggup menyelamatkan mereka berlayar melewati badai tersebut. Dan jika Dia berkenan, maka sanggup menghentikan badai dan taufan itu seketika. Dan itulah yang kemudian dilakukanNya.

Berdasarkan peristiwa itu BKPN berkeyakinan bahwa sekalipun dalam kepemimpinannya selama dekade 1994 -2004 terus menerus diterpa ‘badai’ yang mengancam sendi-sendi kehidupan warga jemaat, namun seruan Tuhan Yesus agar tidak takut, tapi tetap beriman dan berserah penuh kepadaNya. Bagaimana pun tantangan , Dia menyerukan agar umat tidak putus asa. Dengan beriman berharap kepada Yesus, tentu saja umat tidak boleh pasif, tetapi tetap aktif dan melakukan segala usaha yang dapat dilakukan. “Do your best and God will the rest”. Ya, mari kita lakukan yang terbaik, dan selebihnya, Allah akan melakukannya”. Soli Deo gloria.

c. Berani memikul tanggung jawab dan beban.

Sering kali orang-orang berpikir bahwa kehidupan orang Kristen itu berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian, kita hidup penuh dengan masalah. Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup yang bebas dari masalah, tetapi Ia berjanji akan selalu menyertai kita. Di saat kita berada di tengah-tengah masalah Tuhan ingin agar kita meresponiNya. Kita harus sadar bahwa kita bisa saja di dalam kehendak Tuhan saat kita menghadapi masalah. Janganlah kita berpikir bahwa Tuhan hanya bersama-sama dengan kita saat keadaan kita ada di dalam keadaan baik, dan Dia tidak bersama dengan kita saat keadaan buruk. Kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita tidak dapat dilihat dan bergantung kepada keadaan yang kita alami.

Di tengah-tengah badai murid-murid belajar bahwa Yesus selalu ada bersama dengan mereka senantiasa.Jikalau Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk ke seberang danau, Dia pasti akan menyertai mereka. Begitu juga dengan setiap kita, Ia akan selalu bersama-sama dengan kita. Namun kita juga perlu tahu bahwa mungkin juga kita ada dalam masalah karena kita keluar dari rencana dan kehendak Allah

Apapun situasi kita, percayalah bahwa badai yang kita hadapi tidak lebih besar dari Allah kita. Sewaktu kita berada di dalam masalah, dan berseru kepada-Nya, mungkin seolah-olah Ia tidak menjawabnya; Kita menjadi gelisah dan takut seperti murid-murid Yesus. Ketahuilah bahwa pertolongan-Nya tidaklah pernah terlambat, Dia selalu tepat waktu. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: Tenanglah! Aku ini, jangan takut! (Matius 14: 27). Janganlah kita memandang masalah kita dengan mata jasmani, tetapi pandanglah dengan mata rohani, sebab jika tidak demikian kita semua akan menjadi takut. Saat murid-murid Yesus sadar bahwa yang berjalan di atas air adalah Tuhan Yesus, Petrus berseru kepada-Nya: Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air (ayat 28). Untuk sesaat Petrus percaya dan memandang kepada Yesus, namun ketika ia mulai berjalan di atas air Petrus mulai melihat lagi masalah di sekelilingnya, dan ia pun mulai tenggelam.

Apapun yang terjadi biarlah mata kita hanya tertuju kepada Tuhan Yesus dan bukan kepada masalah kita. Tantangan yang kita hadapi perlu belajar sikap Petrus yang berseru kepada Tuhan Yesus dan berani melangkah melakukan apa yang Tuhan katakan. Masalah-masalah yang kita hadapi akan membuat kita lebih dekat lagi kepada Tuhan Yesus. Biarlah dalam proses berbagai masalah yang kita hadapi mata kita hanya tertuju kepaNya

d. Berkarya untuk kepentingan Masyarakat

Dalam pelayanan dan kepemimpinan BKPN yang diperjuangkan bukan hanya pembinaan dan kepentingan anggota jemaat BKPN sendiri, tetapi lebih dari pada itu dengan melihat kondisi pemerintahan dan keadaan ekonomi masyarakat yang belum dikembangkan secara optimal, maka BKPN ikut ambil bagian untuk melakukan terobosan dengan memperjuangkan pemekaran Kabupaten Nias selatan.

Gagasan BKPN yang paling utam tertera dalam 2 hal pokok, yaitu pertama; Supaya Nias bagian selatan dapat menjadi satu sinode Gereja. Kedua adalah supaya Nias bagian selatan dapat menjadi satu pemerintahan tersendiri demi memperpendek tali kendali pelayanan, baik dibidang pelayanan Gereja maupun di bidang pelayanan pemerintahan.

Itulah Sebabnya berkenaan dengan pengurusan pendafaran BKPN di Departemen Agama Sumatera Utara tahun 1996, Pimpinan BKPN memberikan Surat penugasan kepada Awani Wau dan Pdt. So’olo Manao untuk menghadap kepada Kabid Agama Kristen dan Ketua DPRD Sumatarera utara serta Gubernur Sumatera utara dalam rangka menyampaikan kedua hal tersebut.

Dari hasil pertemuan itu akhirnya Ketua DPRD Sumatera Utara mengeluarkan Rekomendasi dan mengusulkan kepada Gubernur agar Nias dimekarkan menjadi dua Kabupaten guna mempercepat pembangunan. Setelah menerima salinan rekomendasi tersebut, maka pimpinan BKPN turut memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar bahu membahu dan bersatu untuk mendukung proses pemekaran Kabupaten Nias Selatan. Dari hasil sosialisai itu akhirnya dibentuk Panitia yang diberi nama Panitia sembilan yang diketuai oleh Mowa’a wau salah seorang tokoh pendiri BKPN.

Dengan berbagai upaya yang telah ditempuh akhirnya usulan ini menjadi agenda Nasional, dan demi memperluas jaringan dalam melibatkan berbagai elemen masyarakat baik di Medan maupun di jakarta akhirnya Panitia Sembilan di lebur dan dibentuk Badan Musyawarah Perjuangan Nias Selatan (BAMUSPERNIS) yang diketuai oleh Bung Hadirat Manao yang juga adalah salah seorang tokoh jemaat BKPN bersama dengan Bung Herman Laia dan kawan-kawan.

Dari hasil perjuangan itu akhirnya tepatnnya pada tanggal 27 Maret 2003 oleh Pemerintah Pusat Nias Selatan berhasil ditetapkan menjadi satu Kabupaten, dan sampai sekarang sudah berjalan roda pemerintahan.

Hal ini menjadi berkat besar kepada masyarakat Nias selatan dan secara Khusus kepada Gereja BKPN, sebab dengan beralihnya kedudukan kecamatana Telukdalam menjadi Kabupaten Nias Selatan Kedudukan Kantor Sinode sebagai Pusat BKPN merasa terangkat derajatnya, dan terus memberi dorongan dan semangat dalam pelayanan.

2.3. Fungsi Kepemimpinan

BKPN dalam kehadiannya di Dunia terpanggil untuk melaksanakan Amat Agung Tuhan Yesus Kristus dalam Injil Matius Pasal 28 : 16 – 120 melalui Tritugas Panggilan Gereja Yaitu:

1. Kesaksian {Marturia} yaitu bertanggung jawab melaksanakan dan melayani Pemberitaan Firman Tuhan disetiap waktu, melaksanakan Sakramen dan Peribadatan.

2 Persekutuan {Koinonia} yaitu dalam melaksanakan panggilannya BKPN mengupayakan dan memelihara persekutuan orang-orang percaya agar dapat memuji dan menyembah Allah yang telah menyatakan diriNya di dalam Yesus Kristus yang telah, sedang dan terus bekerja dalam Gereja melalui Kuasa Roh Kudus.

3. Pelayanan Pengasihan {Diakonia} yaitu dalam melaksanakan PanggilanNya BKPN menyatakan Kasih Allah kepada isi dunia, memberitakan Keselamatan melalui cara dan pendekatan kotekstual lintas budaya dengan memperhatikan aspek ruang, tempat, waktu, dalam kebudayaan masyarakat setempat. Melaksanakan Pelayanan dan kegiatan dalam bentuk aksi sosial sebagai suatu kesaksian dan bukti Rahmat Allah kepada umat manusia.

BKPN sebagai bagian dari tubuh Kristus yang Esa dan nyata mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan:

1. Pemberitaan, Penghayatan dan pengamalan Firman Allah.

2. Melasanakan Sakramen Kudus

3. Melayani pemberitaan Firman Tuhan pada setiap kesempatan, baik pada hari Minggu dan hari-hari besar Gerejawi serta ibadah dalam setiap peristiwa kehidupan anggota Jemaat

4. Membina warga Jemaat kearah yang berdaya guna pada setiap tingkat dan bentuk menuju Gereja Misioner.

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Rumah Tangga BKPN pasal 26, Majelis Pekerja Sinode berfungsi sebagai perwakilan Resor di BKPN dan mewakili Majelis Sinode selama satu Periode. Tugas Majelis Pekerja Sinode adalah: a). Mengawasi pelaksanaan Keputusan – keputusan Majelis Sinode yang dilaksanakan oleh MPHS. Menetapkan kebijakan dan peraturan – peraturan serta menetapkan program pelayanan dan anggaran pendapatan belanja Sinode (APBS) BKPN. Sedangkan fungsi Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) BKPN adalah Pimpinan Rohani dalam Organisasi BKPN yang bertugas untuk:

a. Melaksanakan Amanat Keputusan Majelis Sinode (MS) dan Majelis Pekerja Harian Sinode (MPS).

b. Memimpin Pelayanan diseluruh wilayah BKPN

c. Memimpin organisasi Gereja BKPN

d. Mewakili BKPN di dalam dan di luar

e. Menyusun Garis – gais Besar Program Pelayanan (GBPP) BKPN

f. Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban pelayanan dan keuangan kepada Majelis Sinode.

Dalam kapasitas selaku unsur Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) BKPN, maka Ephorus bertugas sebagai: 1).Gembala dan Pemimpin organisasi Gereja BKPN. 2). Mewakili kepentingan BKPN di dalam dan diluar. 3).Memimpin Pelaksanaan tugas-tugas pelayanan di Kantor Sinode BKPN. 4).dan memelihara hubungan kerja sama dengan lembaga lain. 5). Mengurapi Pendeta. 6) Meneguhkan Guru Jemaat. 7).Meneguhkan Pengurus Departemen tingkat Sinode, Pengurus Yayasan dan Pengurus Lembaga di BKPN. 8).Meresmikan Resor dan Jemaat baru di BKPN. 9).Meresmikan gedung Gereja BKPN. 10).Memberhentikan, memutasikan dan mengangkat para pelayan di BKPN berdasarkan Keputusan MPS.

Dalam kapasitas selaku unsur Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) BKPN, Sekretaris Jenderal betugas untuk:

1. Melayani dan memimpin tugas-tugas kesekretariaan di Kantor sinode BKPN.

2. Mengawasi Pelaksanaan tugas-tugas kesekretariatan dan orgasnisasi BKPN.

3. Melaksanakan tugas Ephorus apabila berhalangan dan berpergian atas dasar surat tugas.

4. Melaksanakan tugas Ephorus dalam hal Ephorus tidak dapat melaksanakan tugasnya sampai akhir periode.

5. Menyusun program pelayanan tahunan Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) BKPN.

6. Mempersiapkan agenda sidang Majelis Pekerja Sinode (MPS)

7. Menyususn laporan pelaksanaan tugas-tugas pelayaan dan kepemimpinan yang disampaikan dalam sidang MPS sekali 6 bulan

8. Menyususn laporan pelaksanaan tugas – tugas pelayaan dan kepemimpinan yang disampaikan dalam sidang Majelis Sinode yang disampaikan sekali dalam 4 tahun.

Dalam kapasitas selaku unsur Majelis Pekerja Harian Sinode (MPHS) BKPN , Bendahara umum bertugas untuk :

1. Menatalayani semua keuangan dan harta milik BKPN, baik benda bergerak maupun tidak bergerak

Merencanakan sumber-sumber keuangan dan mengevaluasi pengelolaan keuangan diwilayah BKPN

2. Membina seluruh pengelolaan administrasi keuangan BKPN mulai dari Sinode sampai di jemaat-jemat.

3. Melakukan pembayaran gaji pelayan dan staf atas persetujuan Ephorus

4. Melakukan pembayaran biaya operasional pelaksanaan tugas-tugas pelayanan di Kantor Sinode baik didalam maupun diluar.

5. Menyusun laporan keuangan terhadap penerimaan dan pengeluaran setiap bulannya dengan sepengetahuan Ephorus

6. Menyusu rangcangan Anggaran pendapatan dan Belanja Sinode BKPN.

7. Memberi Laporan tertulis secara berkala kepada MPS baik diminta maupun tidak diminta

8. Mempersiapkan Laporan pertanggungjawaban keuangan secara tertulis kepada Majelis Sinode pada akir periode.

Dalam hal melaksanakan tugas kepemimpinan di BKPN maka para Pemimpin dalam Organisasi gereja BKPN disebut Gembala. Artinya pengembala umat yang mengayomi dan membimbing di jalan yang benar sesuai dengan maksud Tuhan.

Gembala yang baik merupakan gambaran yang diberikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya (Yohanes 10:1-21). Tuhan Yesus adalah gembala yang baik, maka pemimpin yang berhati gembala, mencari yang sesat, membalut yang luka dan menyembuhkan yang sakit, bahkan memberikan nyawanya bagi domba-domba yang digembalakan berdasarkan kasih dan kerendahan hati.

Pemimpin yang rendah hati siap merendahkan diri, menyamakan diri dengan seorang budak belian (doulos), menanggalkan jubahNya (harga diri dan kehormatanNya), mengenakan pakaian seorang budak, membasuh kaki murid-muridNya dengan rela dan ikhlas.

Alkitab menerapkan bahwa pemerintahan gereja bersifat teokratis. Bukan otokratis, bukan birokratis dan bukan pula demokratis. Dalam sistim teokrasi, Allahlah yang memilih, memanggil dan memperlengkapi orang-orang tertentu menjadi pemimpin dan pemerintah bagi umatNya. Tuhan juga yang mendelegasikan suatu ukuran otoritas kepada para pemimpin gereja sesuai kehendakNya, dan untuk melaksanakan tugas-tugas, serta mencapai tujuan-tujuan dalam penyelamatan umat manusia. Dengan demikian kepemimpinan BKPN telah menyadari bahwa orang –orang yang telah dipercayakan untuk memimpin organisasi BKPN selama ini adalah merupakan sebuah anugerah, maka harus dilakukan dalam konteks kehendak Tuhan yang adalah sang Gembala agung, sebab tanpa Dia maka semuanya akan sia-sia.

a. Perencanaan

Dari segi perencanaan pada periode pertama dan kedua memang belum terlihat jelas, boleh dikakanan bahwa pada saat itu kepemimpinan BKPN bersifat situasional. Tidak matang dalam perencanaan program karena kondisi dan situasi kurang kondusif, sekalipun berbagai rencana program sudah dibuat secara sederhana, namun banyak yang tidak berjalan.

b. Pengorganisasian

Dari segi pengorganisasian juga belum memadai sebaigaimana mestinya layaknya sebuah organisasi gereja yang sudah permanen. Dari pengmatan dan hasil wawancara penulis kepada mantan ephorus BKPN ke dua ( Pdt. Foluaha Bidaya ,M.Div), bahwa pengorganisasian dalam kepemimpinan BKPN dilakukan sedaya mampu karena SDM yang dimiliki sangat terbatas.

Memang dalam periode ini sudah dilakukan penatalayanan, namun karena tidak didukung dengan daya dan dana maka apa adanya dilakukan.

c. Pelaksanaan

Pelaksanaan Program dalam sebuah organisasi merupakan faktor utama dan tujuan utama untuk keberhasilan. Bahkan ukuran sebuah organisasi berhasil dilihat dari pencapaian program yang telah ditetapkan. Akan tetapi dalam kepemimpinan BKPN pada periode pertama dan kedua ini pelaksanaan program dilakukan berdasarkan kondisi yang ada dan bisa dicapai pada saat itu.

d. Monitoring

Dari segi monitoring hampir tidak pernah dilakukan, karena situasi pada saat ini masih rawan, dan masih trauma dengan perpecahan sehingga pelaksanaan monitoring dialihkan dalam bentuk sosialisasi terarah.

e. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan selama kepemimpinan BKPN peride pertama dan kedua dilakukan melalui rapat berdasarkan Laporan tahunan, baik menyangkut program, keuangan. Ada banyak keputusan Majelis Siode yang telah diturunkan untuk dipedomani dalam pelaksanaan tugas pelayanan, namun dalam kenyataannya tidak sepenuhnya diresponi, bahkan terjadi adalah prisma terbalik. Artinya ada indikasi bahwa jemaat mengatur sinode, bukan sinode yang mengatur jemaat.

2.4. Masalah dan tantangan umum

Kendatipun kepemimpinan BKPN sudah berjalan selama 10 tahun (1994 – 2004), namun disana sini terdapat berbagai kelemahan yang digolongkan dalam kaegori negatif. Menurut Pengamatan Penulis yang tergolong dalam kategori negatif adalah:

a. Sikap yang tidak mau mengalah.

Sebagai gereja seharusnya tidak bisa terjadi saling menyakiti. Sebagai sesama anggota tubuh Kristus justu saling merasakan apa yang diderita oleh anggota tubuh yang lain. Abarahan sebagai bapak orang beriman telah menunjukkan sikap yang bijaksanan dengan mengalah terhadap anak saudaranya bernama Lot. Abraham berkata jika kamu ke kiri maka aku ke kanan. Dengan sikap Abraham yang demikian maka tidak ada pertingkaian diantara mereka.

Para pemimpin BKPN juga harus mampu mempedomani sikap Abraham dalam menyelesaikan persoalan dengan pihak BNKP yang sampai sekarang belum menunjukkan titik temu. Khususnya Gereja segi enam yang sekarang dipakai oleh BKPN di kota Telukdalam . Harus diakui bahwa sekalipun gereja tersebut dibangun oleh misionaris dari Jerman, namun diperuntukkan kepada Gereja BNKP. Sepanjang dalam kepemimpinan BKPN tidak bersedia mengalah maka selama itu juga tidak ada penyelesaian secara Kristiani.

b. Pengaruh Kepemimpinan Feodal

Selain sikap tidak mau mengalah, hal yang sangat fatal dalam kepemimpinan BKPN adalah Pengaruh Kepemimpinan Feodal dari si’ulu. Kepemimpinan bukan lagi dikendalikan oleh pimpinan organisasi, melainkan lebih dominan tokoh jemaat yang berkedudukan sebagai anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS) yang berstatus Si’ulu, apalagi sistim kemasyarakatan yang sangat homogen khususnya dikecamatan Telukdalam. Pengaruh demikian mengakar sampai di jemaat, sehingga perubahan sebagaimana yang di inginkan selalu terkendala. Hal itu terlihat dalam kepemimpinan BKPN periode 1994 -1998, sehingga pada periode itu Ephorus ( Pdt. Sarofanotana Harita ) mnegundurkan diri dari jabatan kepemimpinan dan dijabat oleh Sekretaris Jenderal ( Pdt. Folyuaha Bidaya) sebgai Pelasana Tugas (PLT) Ephorus sampai akhir periode 1998.

Menurut Andrias Harefa pemimpin Kristen adalah mereka yang diberi otoritas mengutarakan sikap, perkataan, dan perbuatan mewakili kita sebagai umat Kristen dalam jabatan struktural dilembaga-lembaga gereja lokal, denominasi tertentu, interdenominasional dan pengurus berbagai yayasan atau LSM- parachurch yang menggunakan identitas Kristen.

Orang yang sukses dalam pelayanannya adalah orang yang hidupnya memperkenankan hati Tuhan dan sesuai dengan kehendak Allah, yang hidupnya memiliki kesatuan dan keseimbangan.

Apapun hal yang mendasari kepemimpinan kita hendaklah dimulai dari kasih. Kasih mempunyai makna yang sangat berarti, terdapat unsur ketulusan yang berasal dari hati nurani. Kasih dapat diilustrasikan dengan kasih sayang orang tua kepada anaknya, yang senantiasa membimbing, bertukar pikiran, mengayomi, melindungi, mengarahkan, dan melihat masa depan anaknya. Kasih berarti menegur jika salah, menasehati dan mengingatkan jika lupa/khilaf, bahkan mendidik dan memukuljika nakal serta membalut jika terluka. Hal ini diterapkan dalam leadership dari atas hingga ke bawah, kondisi dapat dirasakan sebagai imbal balik dalam satu ungkapan keselarasan nurani.

3. Visi dan Misi BKPN

Visi dan Misi pelayanan BKPN sebagaimana dituangkan dalam Garis-Garis Besar Program Pelayanan (GBPP) BKPN adalah ” Menjadi Gereja yang mandiri dan Misioner” dengan Misi ” melayani manusia seutuhnya. Arah dari Visi dan Misi BKPN ini adalah agar BKPN Dewasa dari segi iman, mandiri dari segi dana, Kuat dari segi pengetahuan, rela berkorban, dan terbeban dalam pelayanan Misi.

BAB IV

ANALISA KEPEMIMPINAN BKPN

1. KONSEP KEPEMIMPINAN MASA LALU

Beberapa ciri dari intergritas seorang pemimpin Kristen: pertama hidup sesuai dengan apa yang diajarkan; kedua, melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan; ketiga, jujur dengan orang lain; keempat, memberikan yang terbaik bagi kepentingan orang lain atau organisasi dari pada diri sendiri; kelima, akan hidup secara transparan.

Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, tetapi dikembangkan secara kontinyu melalui kehidupan yang mau belajar, keberanian untuk dibentuk Roh Kudus. Itu sebabnya seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan, bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia dibandingkan dengan bakat atau karunia yang terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak kepada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, tetapi karena tidak adanya integritas pada diri pemimpin. Memang kepemimpinan selalu menjadi sorotan ketika seseorang menjadi pemimpin, mulai kelihatan kelemahannya. Tetapi mengembangkan integritas akan menolong menghadapi berbagai persoalan

Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap strukur kepemimpinan organisasi Gereja BKPN maka Struktur persekutuan yang diberi nama Pengurus Harian Sinode (PHS) dan Bdan Pertimbangan Sinode (BPS) dalam satuwadah yag disebut Majelis Pekerja Harian Sinode (MPS), tidak menguntungkan bahkan terkesan seperti ada dua kepala dalam kepemimpinan BKPN. Begitu seterusnya di Resor dan Jemaat. Kedudukan sebagai badan Pertimbangan Sinode, Badan pertimbangan Resor dan Badan pertimbangan Jemaat seringkali menyalah gunakan fungsi dan kedudukannya utuk menekan pendeta selaku pimpinan organisasi, khirnya sering terjadi pebedaan pendapat. Hal itu terbukti pada kepemimpinan BKPN pada periode petama, Ephorus BKPN pdt. Sarofanotana Harita M.Th mengundurkan diri dengan alasan sakit. Demikian Hurezame Sarumaha selaku wakil ketua Badan Pertimbangan Sinode (BPS) mengundurkan diri karena Perberbedaan pendapat. Hal yang sama bukan hanya terjadi di tingkat Sinode akan tetapi juga di jemaat. Sebagaiman yang diungkapkan oleh Pdt. Ibahati Manao, Bendahara Umum BKPN yang pernah menjabat sebagai PLT Ephorus Selama 3 bulan mengatakan bahwa, BKPN pada Periode Pertama mengalami Krisis kepemimpinan, karena waktu itu Pdt. Foluaha Bidaya, BTh selaku Sekjen sedang study lanjut di STT.Ebenhezer Tanjung Enim.

Setelah mengubah sistim dalam struktur organisasi BKPN pada tahun 2006 yang dikenal dengan nama Majelis pekeraja sinode (MPS) dan dalam melaksanaan tugas sehari hari dilakukan oleh Majelis Pekerja Harian sinode (MPHS) dan secara exofisio diketuai oleh Ephorus, maka kepemimpinan BKPN baru terlihat hanya ada satu kepala yaitu Ephorus dan yang lain sebagai anggota tim yang selalu bekerja Dalam satu komando.

2. KONSEP KEPEMIMPINAN MASA MENDATANG

Berbicara kepemimpinan pada masa mendatang tidaklah terlepas dari “orang” yang menjalankan kepemimpinan tersebut. Tidak jarang setiap pergantian pemimpin berganti pula kebijakannya. Hal demikian dapat berakibat, baik bagi jemaat yang dipimpinnya, namun tidak jarang merugikan, bahkan berakibat fatal. Oleh sebab itu, kepemimpinan yang baik merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan, kesetabilan dan kemajuan kelompok di dalam jemaat. Tanpa kepemimpinan yang baik, kelompok apapun di dunia akan rentan konflik serta rawan perpecahan, dan oleh sebab itu sulit bertumbuh dan berkembang.

Kepemimpinan yang baik sangatlah vital dan tidak terhindarkan bagi semua orang. Dimana ada kehidupan bersama, dimana pun di muka bumi ini, orang cuma punya dua pilihan: dipimpin atau memimpin. Dan yang sering ditemui adalah kombinasi diantara keduanya, memimpin dan sekaligus dipimpin.

Ranto Tampubolon menguraikan bagaimana menemukan ciri-ciri seorang pemimpin yang baik adalah : (1) Berpengaruh terhadap orang lain. (2)Menantang Proses (3)Digunakan terhadap sebuah Visi (4)Menjalin kehidupan yang baik dengan orang-orang lain (5)Bekerja dengan baik dibawah tekanan (6)Memecahkan masalah dengan baik (7)Berkomunikasi secara efektif (8) Percaya diri (9) Memiliki sikap positif (10) Tugas dimiliki berdasarkan hasilnya.

Sebagai acuan dalam kepemimpinan Gereja BKPN pada masa mendatang beberapa faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin adalah:

a. Memiliki Visi yang jelas

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat, demikianlah dikatakan dalam Amsal 29:18. Visi adalah tujuan, sasaran, goal, arah, wahyu, mimpi yang hendak dicapai. John Stott mengatakan bahwa visi adalah suatu ihwal melihat, mendapat persepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadu pemahaman yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan.

Kepemimpinan dan Visi tidak dapat dipisahkan. Secara sesderhana Visi adalah sebuah gambaran pikiran yang jelas, tentang hari esok yang lebih baik, diberikan oleh Tuhan yang menggerakkan seseorang untuk percaya , bahwa hal itu bukan saja dapat dikerjakan tapi harus dikerjakan. Visi adalah melihat masa depan , saat ini didasari oleh masa lalu. Melihat yang tidak kelihatan dan menjadikannya dapat dilihat. Jembatan informasi dari waktu sekarang kepada masa depan yang lebih baik.

Kemampuan melihat masa depan adalah bimbingan yang dimiliki seorang pemimpin. Visi dimulai dengan sebagai sebuah gagasan. Dengan berlalunya waktu gagasan itu berubah menjadi sebuah minat yang lebih besar, kemudian menjadi suatu keinginan untuk bertindak. Gagasan itu terbentuk dalam pikiran dan hati seorang pemimpin yang memotifasinya untuk segera bertidak, kendatipun visi itu melalui sebuah proses untuk mewujudkannya.

Lebih lanjut Ranto Tampubolon menguraikan bahwa Visi itu ada dua bagian yaitu: Pertama; Visi buatan manusia dan kedua ;Visi Pemberian Tuhan. Visi buatan manusia diciptakan atas dasar keahlian, penggenapannya tergantung pada tetap berada di depan yang lain, organisasi lain yang serupa kelihatan sebagai pesaing, sasarannya adalah untuk membangun organisasi dan menghasilkan banyak pemasukan. Sedangkan Visi pemberian Tuhan ; kita menerimanya sebagai wahyu dari Tuhan, penggenapannya tergantung pada ketaatan dari pemimpin, Pelayan lain yang serupa kelihatan sebagai pujian, sasarannya adalah untuk melayani banyak orang, mendahulukan peraturan Tuhan, dan untuk menghormati Tuhan.

b. Memiliki Pengetahuan dan keahlian di bidangnya

Visi harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dan usaha. Tidak cukup bagi Musa untuk memimpikan suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Ia berusaha mewujudkannya. Ia menghimpun, menyatukan dan mengatur orang Israel menjadi suatu bangsa. Ia menggunakan pengetahuan yang didapatnya selama pendidikan di Mesir dan pengalaman bersama Tuhan untuk memimpin mereka melintasi gurun yang penuh bahaya dan kesukaran sebelum akhirnya mencapai tanah Kanaan.

c. Tekun dan bertanggung jawab

Ketekunan merupakan salah satu kualitas kepemimpinan yang paling utama. Musa merupakan teladan ketekunan yang penuh ketabahan. Berkali-kali dalam hidupnya bangsa Israel “menggerutu” terhadap kepemimpinannya dan menentang wibawanya. Akan tetapi Musa tidak menyerah. Ia tidak lupa akan panggilan Allah kepadanya untuk memimpin bangsa itu. Ia bertanggung jawab melakukan perintah Tuhan untuk membawa bangsa itu keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan.

d. Menunjukkan Karakter yang baik

Kepemimpinan Kristen merupakan kepemimpinan yang berpusatkan Kristus. Tidak ada seorang manusiapun di muka bumi ini yang akan mampu menjadi pemimpin Kristen yang handal bila ia tidak lebih dulu berjumpa secara pribadi dengan Yesus dan menjadi ciptaan baru (II Korintus 5:17). Ketika seorang menghendaki untuk menjadi pemimpin yang efektif, ia harus bertumbuh secara karakter. Otoritas memimpin dilakukan bukan dengan kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasif.

Yesus sendiri menjadi teladan sebagai gembala yang baik. Petrus secara khusus diminta untuk menggembalakan domba-dombaNya. Ia juga mengajarkan dan mendidik murid-muridNya tentang kepemimpinan yang melayani (Mat. 20:25-28). Tujuan kepemimpinan adalah mengupayakan kesejahteraan bagi orang banyak sehingga menjadi berguna bagi semua orang. Menolong setiap anggota mengembangkan potensinya secara penuh sehingga bisa lebih produktif dan efisien, serta menolong kelompok dalam pencapaian tujuan atau visi-misi pelayanan melalui kerja tim yang efektif.

Kepemimpinan yang baik mengoptimalkan hasil kerja atau pelayanan. Memberi hasil yang lebih besar dari pada dikerjakan sendiri-sendiri. Menolong kelompok dalam menggunakan waktu dan tenaga secara lebih bijak, sehingga lebih efisien dan efektif. Tanpa kepemimpinan yang baik sering terjadi pemborosan waktu, tenaga dan dana. Hal ini akan memberi rasa aman dan semangat kepada anggota, menghasilkan ketertiban dan keteraturan. Tanpa itu, bisa terjadi kekacauan dan tidak adanya damai sejahtera.

e. Memiliki Kemampuan di bidang majemen

kepemimpinan merupakan unsur kunci dalam menentukan efektivitas maupun tingkat produktifitas suatu organisasi. Harus memiliki satu atau beberapa kemahiran teknis tertentu, agar ia mempunyai kewibawaan dan kemampuan untuk memimpin organisasinya. Kemampuan pemimpin untu melihat dan mematuhi dengan baik, mengerti sebab dan akibat kejadian, menemukan hal-hal yang krusial, dan cepat menemukan cara-cara penyelesaiannya dalam waktu yang singkat. Merumuskan nilai-nilai kelompok dan memilih tujuan-tujuan kelompok, sambil menentukan sarana dan cara-cara operasional guna mencapainya

Memanfaatkan dan mengoptimalkan kemampuan, bakat, dan produktifitas semua anggota kelompok dalam organisasi untuk berkarya dan berprestasi. Memberikan rasa aman dan status yang jelas kepada setiap anggota, sehingga mereka bersedia memberikan partisipasi penuh.

f. Tegas dalam mengambil keputusan

Mengambil keputusan secara tepat, tegas, dan cepat sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya. Mampu memenuhi harapan, keinginan dan kebuthan-kebutuhan para anggota, sehingga mereka puas. Juga membantu adaptasi anggota terhadap tuntutan-tuntutan eksternal ditengah masyarakat, dan memecahkan kesulitan-keulitan hidup anggota kelompok.Berdasarkan uraian tersebut, keberhasilan seorangpemimpin tidak hanya diukur dari keberhasilannya dalammenggerakkan individu-individu untuk berbuat saja, tetapi terutamasekali pada kemampuannya untuk menggerakkan kelompok sebagaitotalitas. Sehingga kelompok dapat berkembang dan mencapai tujuan bersama

Menegakkan peraturan, larangan, disiplin, dan norma-norma organisasi agar tercapai kepaduan atau kohesifenes kelompok, meminimalisisr konflik dan perbedaan-perbedaan. Memelihara struktur organisasi, menjamin interaksi yang lancar dan memudahkan pelaksanan tugas-tugas..

Dalam pengertian di atas, setiap orang Kristen sesungguhnya dipanggil menjadi “pemimpin,” baik sebagai saksi Kristus maupun sebagai murid Kristus untuk memuridkan orang lain menjadi murid Kristus

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpula

Umat membutuhkan pemimpin yang dapat diteladani, dalam segala segi baik karakter, manajemen, pelayanan. Kepemimpinan Kristen bukanlah mau memerintah, akan tetapi menjadi teladan hidup. Pemimpin sukses adalah orang yang mampu mencetak pemimpin baru, dan bukannya iri atau takut tersaingi bila bawahannya sukses.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan bawahannya. Mencukupi kebutuhan hidupnya agar mereka dapat berkonsentrasi melakukan tugas pelayanan yang dibebankan tanpa harus dipusingkan akan persoalan makan, minum, pakai. Pantang menyerah, inovatif dan terus mengembangkan diri secara kualitas. Dengan demikian, akan membuat pelayanan pemimpin itu semakin efektif dan berhasil mencapai visi yang ingin diraihnya.

Jika ingin kepemimpinan BKPN berhasil guna, maka harus siap belajar terus menerus. Belajar dari Tuhan, dari buku-buku yang berbobot, dari orang-orang yang telah berhasil dalam menjalankan kepemimpinannya. Jangan merasa puas terhadap keberhasilan yang telah dicapai, dan jangan selalu merasa sudah benar dan pintar sendiri.

Setelah melihat kelemahan kepemimpian BKPN pada dekade 1994-2004, dan dengan mempelajari berbagai bentuk kepemimpinan, maka diharapakan kepemimpinan BKPN pada masa mendatang akan lebih optimal sesuai dengan dan kehendak Tuhan Yesus Kristus sebagai pemimpin Agung.

Jangan takut dalam menghadapi berbagai tantangan, tetapi berdirilah tegak dan jangan goyah, sebab tangan Tuhan selalu menompang hamba-hambanya dalam memimpin umatnya.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan, maka dalam penelitian ini ada beberapa saran yang penulis sampaikan:

1. Jika BKPN mau bertumbuh dalam kepemimpinannya, maka para pemimpin harus bertumbuh secara peribadi, sebab jika bedrhenti bertumbuh, maka sama halnya berhenti menjadi seorang pemimpin.

2. Bagaimana kepemimpinan BKPN hari ini akan menetukan siapa BKPN pada hari esok, sebab satu pada hari ini akan bernilai dua pada hari esok.

3. Karena kedatangan Kristus ke dunia adalah pembawa damai, maka hendaknya para pemimpin BKPN berupaya berdamai dengan semua orang termasuk kepada para pemimpin gereja lainnya yang pernah merasa disakiti.

4. Hendaknya semagat kemandirian, menjadi acuan pada kepemimpinan masa mendatang, dan jangan hanya berpuas diri dengan hasil yang telah dicapai pada masa kini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s